Make your own free website on Tripod.com

Tes Kelinci

Kepolisian, ABRI, dan badan intelejen BIA saling menyombong bahwa merekalah yang terbaik dalam menangkap penjarah yang sedang marak saat sekarang. Soeharto merasa perlu untuk melakukan tes terhadap hal ini.

Soeharto melepas seekor kelinci kedalam hutan dan ketiga kelompok pengikut tes di atas harus berusaha menangkapnya.

BIA masuk ke hutan. Mereka menempatkan informan-informan di setiap pelosok hutan itu. Mereka menanyai setiap pohon, rumput, semak dan binatang di hutan itu. Tidak ada pelosok hutan yang tidak di interogasi. Setelah tiga bulan penyelidikan hutan secara menyeluruh akhirnya BIA mengambil kesimpulan bahwa kelinci tersebut ternyata tidak pernah ada.

ABRI masuk ke hutan. Setelah dua minggu kerja tanpa hasil, mereka akhirnya membakar hutan sehingga setiap mahluk hidup didalamnya terpanggang tanpa ada kekecualian. Akhirnya kelinci tersebut tertangkap juga hitam legam, mati ... tentu saja.

Kepolisian masuk hutan. Dua jam kemudian, mereka keluar dari hutan sambil membawa seekor tikus putih yang telah hancur-hancuran badannya dipukuli. Tikus putih itu berteriak-teriak: "Ya ... ya ... saya mengaku! Saya kelinci! Saya kelinci!"

Back.jpg (8147 bytes)


 Titit dan Tutut

Kita masih ingat ketika aktor agak terkenal Indonesia, Ongky Alexander menikah dengan Paula, anak buah Mbak Tutut, (yang konon kabarnya suka berlesbi-ria dengan Tutut … konon lho).

Beberapa minggu setelah pernikahan mereka, seorang wartawan kita menanyakan pengalaman pertama Paula bersama Ongky, "Bagaimana pendapat Mbak Paula, mengenai pengalaman malam pertama bersama Ongky?"

"Wah, … ternyata titit lebih enak daripada Tutut!," jawab Paula dengan antusiasnya.

Back.jpg (8147 bytes)


 Matematika Uang

Di salah satu sekolah dasar di Yogyakarta, seorang guru mengajarkan matematika, dengan menggunakan uang rupiah sebagai sarana penyampaiannya.

Bu Guru bertanya, "Perhatikan anak-anak, pada uang rupiah yang bergambar Pak Harto berapakah nilai rupiahnya?"

Murid-murid menjawab, "Lima puluh ribu, Bu Guru!"

Bu Guru bertanya lagi, "Sekarang perhatikan, pada uang rupiah yang bergambar monyet di hutan berapakah nilai rupiahnya?"

Murid-murid menjawab, "Lima ratus, Bu Guru!"

Untuk mentest kekuatan penalaran murid-muridnya, dengan penuh selidik, Bu Guru bertanya, "Jadi apa kesimpulan yang dapat kita tarik dari gambar dan nilai masing-masing uang rupiah tersebut anak-anak?"

Murid-murid secara serempak menjawab, "Lima puluh ribu dibagi lima ratus adalah seratus, Bu Guru. Jadi menurut mata uang kita, Pak Harto sama nilainya dengan seratus monyet di hutan, Bu Guru!"

Back.jpg (8147 bytes)


Pengalaman Soeharto

Seperti jamaknya pensiunan jendral ABRI di negara kita, mereka masih dipekerjakan di sektor swasta atau di lembaga-lembaga lain yang membutuhkan atau dipaksa untuk membutuhkan. Kata mereka yang membela sistem ini adalah untuk mengurangi dampak negatif dari apa yang terkenal dengan "post power syndrome."

Rupanya Soeharto pun tidak lepas dari kerangka berpikir seperti di atas. Jadi dia memang masih berharap jika dia pensiun dari presiden, masih dibutuhkan di tempat lain.

Namun, sebagai jendral, rupanya dia sudah membayangkan skenario yang bakal terjadi kalau dia pensiun. Beginilah bayangan dia: "Kalau saya nanti pensiun, dan akan ditempatkan di suatu perusahaan, pasti akan diadakan wawancara dahulu." Kemudian Soeharto membayangkan percakapan dalam wawancara tersebut adalah sebagai berikut:

Pewawancara, "Pak Harto, apakah pengalaman bapak sebelum ini?

Soeharto menjawab, "Saya berpengalaman menjadi presiden!"

Pewawancara, "Apakah Pak Harto berpengalaman mendidik isteri?"

Soeharto menjawab dengan agak malu, "Saya tidak berpengalaman"

Pewawancara, "Apakah Pak Harto berpengalaman mendidik anak?"

Soeharto menjawab dengan tersipu, "Saya tidak berpengalaman"

Pewawancara terus saja melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang biasa dilontarkan kepada orang-orang biasa, ternyata setiap pertanyaan tersebut dijawab oleh Soeharto dengan "tidak berpengalaman" yang tentu saja betul. Oleh karena itu, Soeharto, setelah membayangkan kemungkinan diterima untuk menjadi pegawai di suatu perusahaan adalah kecil, dan mengingat dia tidak punya pengalaman selain menjadi presiden, maka dia bersumpah dalam hati: "Aku harus jadi presiden, sampai mati!, karena itu saja yang saya pengalaman."

Back.jpg (8147 bytes)


Kiat Tommy Menurunkan Harga Semen

Pada saat wawancara di TV, Tommy menyombongkan diri bahwa dia bisa menurunkan harga semen secara cepat. Pewawancara dengan sigap bertanya, "Bagaimana caranya?" Tommy dengan kalemnya menjawab, "Bentuk saja Badan Penyangga Perdagangan Semen, pasti harga semen akan turun. Seperti saat BPPC dibentuk, harga cengkeh langsung turun drastis."

Back.jpg (8147 bytes)

 


 Benazir Bhutto dan Tutut

Mbak Tutut, anak Soeharto, sangat ambisius sekali untuk menjadi pemimpin negara, walaupun kemampuannya hanya begitu-begitu saja. Saking ambisinya, Tutut berusaha menghubungi orang-orang beken dunia untuk dimintai nasehat. Yang menjadi pilihan Tutut untuk dimintai nasehat adalah perdana menteri wanita Pakistan, Benazir Bhutto.

Pada konsultasi yang pertama melalui telepon, Tutut bertanya, "Mbak Benazir, coba tolong saya, bagaimana sih caranya untuk bisa menjadi presiden."

"Oh, itu mudah," ujar Benazir, "coba Mbak Tutut memakai kacamata seperti saya."

Tutut segera melaksanakan nasehat Benazir, memakai kacamata. Namun sudah sebulan menggunakan kacamata, tetap tidak dipilih mejadi presiden. Terus dia telepon lagi Benazir.

"Mbak Benazir, gimana nih," kata Tutut, "masak saya sudah memakai kaca mata, kok masih belum dipilih juga menjadi presiden."

"Oh, memang masih ada syarat yang lainnya sih," ujar Benazir, "coba Mbak Tutut memakai kerudung seperti saya."

Tutut segera melaksanakan nasehat Benazir, memakai kerudung. Ternyata berhasil, sesudah sebulan menggunakan kerudung, Tutut akhirnya diangkat menjadi menteri lauk-pauk (= menteri Soksial). Namun dasar rakus dan ambisius, Tutut tetap ingin mejadi presiden. Terus dia telepon lagi Benazir.

"Mbak Benazir, gimana nih," ujar Tutut di telepon, "masak saya sudah berkacamata dan berkerudung seperti Mbak Benazir, tetapi kok saya cuma dipilih jadi menteri. Gimana sih syaratnya supaya jadi presiden."

Dengan agak sungkan Benazir menjawab, "Memang sih, masih ada syarat yang lain, cuma yang ini paling berat dan mungkin anda tidak mampu melaksanakannya!"

Tutut karena penasaran dan ambisius, dengan semangat berapi-api bertanya lagi, "Ayo donk Mbak Benazir, katakan saja syarat itu, saya pasti akan melaksanakannya."

Benazir Bhutto tetap saja sungkan memberitahukan syarat yang terakhir itu, namun karena didesak oleh Tutut berkali-kali, akhirnya Benazir berkata, "Begini dik Tutut, supaya anda dapat menjadi presiden, anda harus mengikuti langkah saya yaitu bapak anda harus digantung seperti yang dialami bapak saya."

Back.jpg (8147 bytes)


Arwah Machiavelli

Arwah Machiavelli berkeliling dunia hendak melihat konsep kekuasaan di berbagai negeri.

Pada Presiden Prancis ia bertanya, " bagaimana cara anda bisa berkuasa?" Dijawab, "kalau saya dipilih via pemilu, yang suka memilih saya, yang tidak suka boleh jadi oposisi!"

Pada Presiden Amerika ia bertanya, " Bagaimana kau bisa berkuasa?" Dijawab, " Saya bisa berkuasa karena para bankir dan pengusaha ada di belakang saya."

Pada Presiden Rusia ia bertanya, " Bagaimana kalian bisa berkuasa?" Dijawab, " Saya bisa berkuasa karena menjanjikan kemakmuran bersama."

Pada Presiden Indonesia ia juga bertanya. "Bagimana cara kau bisa terus berkuasa." Dijawab, " Karena Saya Berkuasa!".

Machiavelli bersujud.

Back.jpg (8147 bytes)


Dwi Fungsi

Sugiyo sudah berumur 42 tahun dan mempunyai 4 orang putra.

Hari ini ia mengumpulkan semuanya dan menanyakan cita-cita mereka.

Si Sulung, Tohar, "Saya ingin menjadi direktur perusahaan dan Wiraswasta." Si Nomor dua, Suhar, "Saya ingin menjadi Ulama yang terkenal." Si Bungsu Suto, "Saya ingin jadi anggota DPR."

Sugiyo gembira mendengar cita-cita anaknya, lalu ia berkata, "Kalau begitu kalian semua harus masuk ABRI."

Back.jpg (8147 bytes)


 Srimulat

Beberapa tahun silam, panggung Sri Mulat (kelompok lawak tradisional asal Jawa Timur) di Taman Ria - Senayan ditutup. Apa pasal? Menurut desas-desus yang beredar di kalangan seniman lawak dikatakan bahwa bubarnya Sri Mulat di Taman Ria - Senayan karena "kalah lucu" dengan banyolan para anggota DPR yang kebetulan berlokasi di dekatnya.

Benar tidaknya wallahualam, karena nyatanya Sri Mulat jadi sepi penonton.

Back.jpg (8147 bytes)


 Mohon Petunjuk

Pada waktu mengadakan kunjungan kerja ke daerah meninjau kelompencapir (kelompok penjilat, pengecap dan tukang sihir). Menteri Harmoko disertai para punakawan (al. Dirjen RTF, PPG dan Direktur TVRI=TV Ribut Iuran) menaiki pesawat dengan gayanya yang kocak dan khas. Seorang pramugari yang tergopoh-gopoh (karena melayani menteri) secara tidak sengaja menyenggol topi yang dipakai bapak menteri kita ini, sehingga topi tsb. terjatuh.

Sang pramugari secara spontan dan wajah sedikit ketakutan segera minta maaf dan akan mengambil topi yang terjatuh itu. Tapi apa yang terjadi? Harmoko segera menghardiknya "Stop, jangan diambil dulu !" Sang pramugari bertanya dengan nada heran "Kenapa pak?"

"Saya akan minta petunjuk dahulu kepada Bapak Presiden" jawab Harmoko kalem, sambil memberi perintah pada salah seorang punakawan untuk mengontak Cendana melalui HP-nya.

Back.jpg (8147 bytes)


 Joko Handoko

Sehabis mengadakan kunjungan yang memalukan ke Selandia Baru, Menteri Joop Ave dipanggil Babe kita ke Cendana (agar lebih privat), selain menanyakan kasusnya, Babe kita ini juga "agak" mengingatkan menterinya ini karena menurut data yang ada, turis asing yang berkunjung ke Indonesia agak menurun kuantitasnya.

Gara-garanya adalah kebanyakan orang asing tahu bahwa menteri Parpostel Indonesia nama-nya pakai nama Belanda, jadi dibenak mereka apa bedanya dengan berkunjung ke negeri Belanda saja.

Untuk itu Babe kita menyarankan agar Joop ave ganti nama saja yang berbau Indonesia (khusunya Jawa) sehingga lebih berkesan tradisional dan lebih menarik minat turis asing.

Dengan sendiko dawuh Joop Ave menuruti saja kemauan Babe kita ini dan mengusulkan beberapa nama alternatif, namun rupanya Babe kita ini masih kurang berkenan sehingga dengan suara agak keras beliau ini berkata "Mulai detik ini nama kamu saya ubah menjadi JOKO HANDOKO".

Dengan takut-takut si Joop ini bertanya "Artinya dan maknanya apa Pak?". "Artinya kamu adalah seorang perjaka yang HANya DOyan KOnci" jawab Babe Soeharto dengan sedikit meringis.

Back.jpg (8147 bytes)


 Rajane Presiden

... ada pejabat pemerintah Indonesia mengadakan peninjauan lapangan di sebuah kampung di pelosok Pulau Madura (Jatim). Seperti biasanya kalau ada pejabat pemerintah (dari Jakarta) yang datang masyarakat dikumpulkan untuk menyambut tamu tersebut, sekalian untuk tatap-muka dan berdialog. ... setelah berdialog kesana-kemari akhirnya pejabat tersebut ingin mengetest pengetahuan masyarakat setempat ..., maka dia tanya kepada seorang pria berumur 40 tahunan ..., sebut saja bapak A.

Pejabat: " ... bapak A, apakah bapak tahu siapa presiden Republik Indonesia?"

Bapak A: " ... yok apa sey (gimana sih), ... presiden Republik Indonesia ... ya banyak sekali pak!"

Pejabat (... sedikit bingung dan geli ...): "Lho ... apa maksud bapak?"

Bapak A: "Yaah ... presiden Republik Indonesia memang banyak pak, tergantung keadaan pak, ... kadang-kadang ya pak Harmoko (ket: MenPen), ... kadang-kadang ya pak Ali Alatas (ket: MenLu), ... tergantung lah pak, ... siapa yang muncul di televisi ..."

Pejabat ( ... masih geli dan tetap ingin tahu ... ): "Nah ... kalau begitu siapa dong Pak Harto itu?"

Bapak A (dengan semangat tinggi menjawab): "Wah kalau Pak Harto itu jelas RAJANE PRESIDEN ... pak!"

Back.jpg (8147 bytes)


Rehabilitasi oleh Tuhan

Di akherat, Tuhan memerintahkan malaikat untuk memberi rehabilitasi pada para jendral militer yang banyak membunuh rakyat. Untuk itu mereka akan dikirim kembali dunia, dan ditanyakan apa yang akan dilakukan.

Jendral Franco dari Spanyol, "terima kasih Tuhan, aku akan meminta maaf pada rakyatku, lalu menjadi biarawan dan memuji namaMu."

Jendral Salazar dari portugal, "terima kasih Bunda Maria, aku akan pergi dari pintu ke pintu di seluruh negeri untuk minta dikasihani."

Jendral Pinochet dari Chile. "terima kasih Jesus, aku akan menjadi buruh miskin dan memimpin mereka melawan ketidakadilan."

Seorang Jendral dari Indonesia berkata, "Ampun Tuhan! Tolong jangan kirim saya ke dunia! Kirim saja saya ke neraka. Biarlah 2 Juta orang komunis menghujat saya, Ribuan dan ratusan warga Priok, Nipah, Lampung, Tim-Tim, Aceh , dan korban 27 Juli mengumpat saya! Di dunia sana, 190 juta orang tidak segan untuk membunuh saya dua kali."

Back.jpg (8147 bytes)


 Yang Boleh dan yang Tidak

Seorang jendral Militer mengundang para wartawan guna memberi arahan apa yang boleh diberitakan dan apa yang tidak boleh diberitakan.

"Berita Suksesi tidak boleh ditulis, Presiden tidak suka. Pemogokan buruh, jangan ditulis, nanti terjadi konflik. Berita korupsi tidak boleh dipolitisir, wibawa pemerintah rusak. Monopoli tidak boleh menyebut keluarga Presiden, itu tidak etis. Politik tidak boleh memihak rakyat, nanti resah. Kenaikan harga tidak boleh dijadikan berita utama, rakyat nanti marah. Berita ini tidak boleh.... Berita ini tidak boleh....dst."

Seorang wartawan muda yang tidak sabar lalu menyela, "kalau begitu Jendral, apa yang boleh kami beritakan?"

Si Jendral menjawab dengan tenang, " kalian beritakan yang barusan saya ucapkan!"

Back.jpg (8147 bytes)


 Kamus Humor

AIDS = Aku Ingin Ditelepon Soeharto (catatan: biasanya terjadi pada saat pembentukan kabinet)

Bimantara = Bambang Ingin Menguasai nusANTARA

Bimantara = BIni, Mantu, Anak TAmak dan RAkus

Golkar = GOLongan KOruptor and Rakus

Habibi = Habis bikin bingung (menjual)

Habibi = Hanya bisa bikin

HARMOKO = gayanya garang bagai HARimau, lucu kayak MOnyet, tukang jilat kayak Kodok

HARMOKO = HARi-hari oMOng Kosong

IMF = Indonesia Makin Fatal

Internet = Indomie Telur dan Cornet

Internet = Indonesia terkenal negatif terus

Korpri = Korban printah

KUHP = Kasih Uang Habis Perkara

LUBER = LUBangi BERingin

NIP = Nrimo Ing Pandum (Nerima apa adanya, gaji PNS kecil)

PBB = Pajak untuk Babe-Babe

PEMILU = PENipuan Umum

PKI = Partai kolusi antar birokrat militer konglomerat Indonesia

PPP = Putra Putri Presiden (nan rakus)

SDSB = Soeharto Dalang Segala Bencana

STTNAS = Soeharto Turun Tahta Negara Aman Sentosa

Suharto = SUdah HArus Tobat

Suharto = SUka HARta dan arTO

Supersemar = SUharto PERgi SEperti MARcos

Surjadi = SURuh apa saJA jaDI

Timor = Tommy Ingin Maya Olivia Rumantir

Timor = Tommy Itu Memang Orang Rakus

Turunkan harga = Turunkan Harto dan Keluarga

Tutut = Tanpa malu Terima Upeti Terus (sampai mati)

Tutut = Tanpa Usaha Tapi Untung Terus

TVRI = TV Ribut Iuran

UUD '45 = Usaha untuk dilestarikan (walau ada beberapa kelemahan)

Back.jpg (8147 bytes)


Melangkahi Mayat Tien

Beberapa bulan setelah ditinggal mati Tien, Soeharto sering berkunjung secara periodik ke Astana Giri Bangun dimana Tien dikuburkan. Beberapa pengawal pribadi yang kebetulan melihat, menceritakan bahwa Soeharto ternyata berkali-kali melangkahi makam Tien.

Usut punya usut, ternyata penyebabnya adalah semasa hidupnya, Tien pernah berkata kepada Soeharto bahwa kalau suaminya mau menyeleweng atau beristeri lagi, Tien berujar bahwa Soeharto harus melangkahi mayatnya dulu. Rupanya Soeharto sangat patuh dengan pesan isterinya itu. Jadi itulah kenapa dia sering melangkahi mayat isterinya sekarang, karena kebutuhan alamiah sebagai seorang lelaki tak tertahankan.

Back.jpg (8147 bytes)


Bank Kebal Likuidasi

Di tengah terjadinya kepanikan dan rush yang dialami nasabah dan bank di Indonesia menyusul likuidasi 16 bank oleh Menkeu dan Gubernur BI, beredar kabar bahwa ada sejumlah bank yang aman dari ancaman likuidasi susulan. Setidaknya bank-bank tetsebut tak akan dilikuidasi secara bersamaan. Bank tersebut antara lain adalah Bank PANIN, Bank TATA, Bank BUKOPIN dan Bank HASTIN.

Apa pasalnya?

Selidik punya selidik, ternyata Soeharto berkeberatan bila bank-bank tersebut dilikuidasi akan berakibat dengan munculnya berita "PANTAT BU TIN (baca: TIEN) DILIKUIDASI".

Back.jpg (8147 bytes)


Nominasi Nobel

Ada cerita yang baru saja bocor dari Setneg. Begitu Setneg menerima telegram bahwa Ramos Horta dan Uskup Agung Belo terpilih untuk menerima Nobel Perdamaian tahun 1996, Moerdiono langsung panik. Benar juga, ia kemudian dipanggil oleh RI-1 dan didamprat habis-habisan, karena dianggap tidak becus melakukan lobby untuk memenangkan Hadiah Nobel bagi Soeharto.

Selidik punya selidik ternyata awal dari prahara ini adalah pada kesalahan seorang staf baru Setneg yang diperintahkan membuat semacam surat usulan ke Panitia Nobel. Karena ia sangat mengagumi Soeharto dan terpesona dengan liputan TV pada saat upacara pemakaman Ibu Negara yang bak prosesi pemakaman keluarga raja itu, ia menyimpulkan bahwa Soeharto adalah bangsawan.

Di application form-nya ditulisnya gelar bangsawan Raden Mas didepan nama beliau, yakni R(aden) M(as) S. Harto yang rupanya salah dibaca oleh Panitia Nobel sebagai singkatan nama Ramos Horta.

Back.jpg (8147 bytes)


Ah, Itu Potret Penjahat

Suatu hari saat Syarwan Hamid dengan pengawalan ketat melakukan inspeksi ke sejumlah pemukiman di Baucau, Timor Timur. Di kawasan itu Syarwan keluar-masuk rumah penduduk dan memeriksa semua isi rumah secara detil. Rupanya Syarwan ingin menyaksikan bagaimana penduduk Timor Timur menata rumahnya, sekaligus seberapa jauh proses integrasi telah berhasil.

Di ruang tamu beberapa rumah penduduk Syarwan melihat terpampang gambar burung garuda dan potret Presiden Soeharto serta Wakil Presiden Try Sutrisno di sebelah kanan-kirinya.

"Wah, ternyata Bapa sudah sadar dengan arti integrasi ya. Dan rupanya Bapa sudah tahu bahwa presiden di Timor-Timur adalah Soeharto dan wakilnya adalah Try Sutrisno. Selamat Bapa," ujar Syarwan sambil memberikan uang Rp 100 ribu.

Hal itu dilakukannya kepada setiap penghuni rumah yang diketahui memasang lambang garuda dan potret presiden dan wapres.

Kini giliran rumah Manuel yang dikenal sebagai anti-integrasi diinspeksi Syarwan dan rombongannya. Ketika masuk ke ruang tamu, Syarwan tampak tertegun melihat di ruang tamu rumah Manuel tergantung sebuah patung Yesus Kristus tengah disalib. Sedang di kanan-kirinya terpampang gambar Soeharto dan Try Sutrisno.

... Manuel dan istrinya sempat tegang. Tapi senyum Syarwan pun segera mengembang. "Tak saya sangka Bapa Manuel telah sadar dengan arti integrasi. Terima kasih bahwa Bapa telah menyejajarkan Pak Harto dan Pak Try dengan Yesus," ujar Syarwan sambil memerintahkan anak buahnya menyerahkan uang sebesar Rp 500 ribu sebagai penghargaan kepada Manuel.

Ketika rombongan berlalu, datang tetangga Manuel bernama Mariano. "Lho bukankah Bapa selama ini anti pada penindasan yang dijalankan oleh’’ penguasa Orde Baru? Apa betul Bapa menyejajarkan Soeharto dan Try Sutrisno dengan Yesus?" tanya Mariano.

"Ah siapa bilang. Itu kan kata si Syarwan. Apa yang ada di ruang tamu ini kan seperti adegan penyaliban di Golgota. Saat itu bersama Yesus, turut disalib dua orang penjahat di sebelah kiri dan kanannya," jawab Manuel enteng.

Back.jpg (8147 bytes)


Masker

Sebuah pertemuan tingkat menteri ASEAN baru-baru ini diadakan di Jakarta. Acara yang digelar adalah membahas keganasan asap dari kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatra - yang menyebabkan orang-orang di Kuala Lumpur dan Serawak pada sesak nafas dan terpaksa memakai masker. Bahkan Perdana Menteri Mahathir, mungkin untuk mengejek Soeharto, juga memakai masker dalam berpidato di depan umum.

Selanjutnya dalam pertemuan Jakarta itu Menteri Lingkungan Hidup Sarwono datang. Yang menarik ialah bahwa ia satu-satunya yang memakai masker yang menutup hidung dan mulutnya. Koleganya dari Malaysia heran dan bertanya, "Kok you pakai masker seperti kami? Kan Jakarta tidak kena asap?"

Sarwono, lantaran memakai masker, tentu tidak bisa menjawab. Ia mengambil ballpointnya dan menulis di secarik kertas, "Ssttt. Mulut saya pakai masker bukannya sebab takut asap. Presiden menyuruh saya tutup mulut."

Back.jpg (8147 bytes)


Sesama Setan

Setelah bermalam di Musdalifah, Soeharto beserta rombongan dan pengawalnya menuju Mina untuk melempar jumroh sebanyak tiga kali, yang disebut sebagai Ula, Wusta dan Aqobah. Bagian dari ibadat haji ini merupakan simbol dari upaya mengusir setan sebelum ke Masjidil Haram.

Begitu tiba di tempat melempar jumroh pada saat subuh, Pak Harto segera mengambil batu dan melemparkannya kearah tiang tempat setan. Namus Soeharto dan rombongan sangat terkejut begitu batu yang dilemparkannya itu kembali kearah dirinya dari arah kegelapan. Untung anggota Paspampres yang berada di dekat Soeharto sigap menangkapnya.

Setelah bisa menguasai diri, Soeharto kembali mengambil batu dan melemparkannya sekali lagi ke arah tiang. Namun kali ini, batu yang dilempar kembali. Para anggota Paspampres segera menyebar. Semua anggota rombongan tegang. Mereka mengira ada anggota ekstrem kanan yang berniat membunuh Soeharto.

"He, siapa kamu yang melempar batu ke arah presiden? Saya perintahkan keluar. Cepat, atau saya tembak!" teriak kepala Paspampres.

Tunggu punya tunggu tak ada siapa pun yang tampak. Namun, tiba-tiba dari balik kegelapan tempat tiang setan terdengar suara, "He, sesama setan dilarang saling melempar batu!"

Back.jpg (8147 bytes)


Sumbangan Terbesar untuk Rakyat Indonesia

Kunjungan singkat Soeharto ke beberapa desa di Sulawesi Selatan menyenangkan hati bagi pemimpin yang sudah berkuasa 30 tahun itu. Masyarakat desa setempat menyambutnya dengan meriah. Umbul-umbul dipasang di jalan-jalan desa, bendera merah putih dikibarkan di setiap sudut desa. Tak lupa spanduk-spanduk yang berisi puji-pujian bagi Bapak Pembangunan ini bertebaran dimana-mana.

Soeharto benar-benar terharu. "Lihat, rakyat Indonesia masih mencintai saya," katanya kepada Mensesneg Moerdiono yang setia mendampinginya.

Singkat cerita, kunjungan berakhir membahagiakan. Soeharto bersama rombongan yang terdiri atas Mbak Tutut, Titiek Prabowo, Bob Hasan dan Moerdiono terbang dengan helikopter meninggalkan desa tersebut.

Di atas sebuah desa yang dilihat dari udara tampak miskin, Soeharto tampak tertegun. Di bawah tampak pemandangan ratusan warga desa melambai-lambaikan tangan menyambut heli rombongan Presiden yang berkenan melintas di atas desa mereka.

"Kasihan, miskin sekali desa itu," kata Soeharto.

Lalu ia mengeluarkan uang pecahan Rp 50 ribu yang bergambar dirinya. Ketika ia hendak melemparkannya, Mbak Tutut mencegahnya. "Biarlah saya tukar dengan pecahan puluhan ribu agar ada lima orang yang bergembira menerimanya," kata Mbak Tutut.

Titiek Prabowo yang mendengar usulan brilyan kakaknya itu segera menukas, "Kalau begitu saya tukarnya dengan pecahan lima ribuan agar ada sepuluh orang yang bergembira menerimanya."

Bob Hasan pun ikut memberi usul. "Biarlah saya tukar saja dengan pecahan seribu agar ada lima puluh orang yang bergembira menerimanya," kata konglomerat yang punya prestasi dibidang pembabatan hutan Indonesia itu.

Soeharto pun hanya manggut-manggut. Namun Moerdiono yang sejak tadi nampak jengkel kemudian memberi usulan pada Soeharto.

"Mengapa bukan Bapak Presiden saja yang dilempar ke luar, agar ada 200 juta orang yang bergembira?"

Back.jpg (8147 bytes)


Ingin di Kubur di Jerusalem

Merasa usianya kian uzur, Soeharto perlu membuat wasiat tempat di mana ia harus dikubur bila kelak mati. Mungkin ia terpengaruh berita yang gencar soal wasiat mendiang Presiden Soekarno yang berkeingnan agar dimakamkan di Kebun Raya Bogor.

Soeharto segera mengumpulkan para penasehat spiritual dan paranormal istana, menteri kabinet, pimpinan angkatan bersenjata, putra-putri dan para sahabatnya.

"Saya sudah tua, mungkin sebentar lagi saya mati. Menurut kalian sebaiknya jenasah daripada saya dimakamkan dimana?" tanya Soeharto dengan senyumnya yang khas.

"Bukankah menurut kesepakatan keluarga, Bapak akan dimakamkan disamping makam ibu di Astana Giri Bangun?" tanya Mbak Tutut.

Seperti biasa, Soeharto manggut-manggut. "Tidak, saya berubah pikiran," katanya. Mbak Tutut dan anak-anak presiden yang lain terkejut, namun tidak berani memprotes.

"Kelak jika saya mati saya ingin dimakamkan di Bukit Golgota, di luar kota Jerusalem, tempat Nabi Isa disalibkan," lanjut Soeharto dengan wajah yang serlus. Orang-orang yang hadir kontan terkejut dengan wasiat Soeharto ini.

Lukman Harun, tokoh Anti Zionis yang juga hadir tak bisa menyembunyikan rasa tidak setujunya. Apalagi Nabi Isa adalah Tuhan bagi orang Kristen.

"Bapak Presiden, ini tak mungkin dan amat berbahaya. Wilayah itu kan diduduki Zionis Israel dan kita sejak dulu anti-Zionis. Dunia Arab dan kelompok-kelompok anti-Zionis di tanah air akan marah kepada bapak jika ini terjadi. Dampaknyn akan terkena juga kepada putera-putera dan cucu bapak yang akan Bapak tinggalkan," kata Lukman berapi-api

"Saudara Lukman. Itu sangat tidak mungkin. Karena setelah tiga hari saya dikuburkan, saya akan bangkit dan berkuasa lagi untuk selama-lamanya. Dan tak seorang pun akan punya nyali untuk mengusik daripada saya," kata Soeharto.

Back.jpg (8147 bytes)


Petani Tolak Penghargaan Soeharto

Dalam kesempatan kunjungan dinas, Soeharto dijadwalkan menuju Pekanbaru, Riau untuk mengadakan temu wicara. Seperti biasa, ia dan rombongan menggunakan pesawat udara kepresidenan. Tapi malang tak dapat ditolak, pesawat tersebut mengalami kerusakan mesin dan terjatuh di suatu kawasan hutan di Sumatera Selatan.

Tapi keajaiban terjadi. Semua penumpang dan awak pesawat tewas, kecuali Soeharto yang hanya luka-luka cukup berat. Keberuntungan agaknya memang selalu lekat dengan kehidupan Soeharto, seperti ketika dahulu ia diselamatkan Jenderal Gatot Soebroto dan Jenderal Ahmad Yani dari kemungkinan di Mahmilubkan oleh Ketua PARAN Jenderal Nasution karena ketahuan menyelundupkan gula dan candu dengan bekerja sama dengan Liem Sioe Liong dan Bob Hasan untuk membangun bisnis sepeda semasa menjabat Pangdam Diponegoro tahun 1960-an.

Seorang petani dan peladang yang saat itu sedang mencari kayu di hutan menemukan Soeharto yang sekarat. Petani yang bernama Dalimin itu lalu segera membawa dan menyelamatkan Soeharto yang sedang merintih kesakitan itu ke pondokannya di pinggir hutan. Petani tersebut tidak mengetahui siapa orang berambut putih agak gemuk yang ditolongnya.

Setiba di pondokan - bersama sang isteri - segera ia dengan segala keterbatasan obat-obatan yang ada mencoba merawat Soeharto. Ia meminta sang isteri untuk merawat korban sementara dirinya akan mencoba ke desa terdekat untuk mencari dokter Puskesmas.

Alkisah tibalah si petani di desa terdekat dan menemui dokter Puskesmas yang ada. Alangkah kagetnya si dokter muda tersebut, karena belum lama melalui RRI, ia mendengar pengumuman resmi Mensesneg Moerdiono tentang jatuhnya dan hilangnya pesawat kepresidenan di kawasan hutan Sumatera Selatan. Berita ditemukannya korban hilangnya pesawat yang kini sedang di rawat di rumah si petani segera menggegerkan seisi desa, dan tidak berapa lama berita itu sudah terdengar hingga ke kecamatan, lalu ke Gubernur yang kemudian meneruskan kabar tersebut via telex ke Jakarta.

Segeralah disiapkan evakuasi besar-besaran dengan melibatkan tenaga paramedis terbaik dan pasukan elit dari ibukota. Singkat cerita, Soeharto berhasil diselamatkan nyawanya. Dan sebagai tanda terimakasih yang tulus, Soeharto pribadi dan keluarga besar menyatakan rasa haru yang mendalam atas sikap kemanusiaan yang ditunjukkan si petani Dalimin dan isterinya, meskipun keluarga petani tersebut tidak mengetahui siapa sesungguhnya yang mereka tolong.

Pemerintahpun, melalui Mensesneg Moerdiono menyatakan rasa hormat dan terimakasih yang besar kepada si petani itu dan secara resmi pemerintah akan memberikan bantuan material, serta mengundang keluarga petani Dalimin ke Jakarta, tepatnya ke Istana Negara untuk suatu jamuan syukuran yang akan mengundang para pembesar pemerintah dan korps diplomatik.

"Pak Dalimin dan isteri menyelamatkan Soeharto. Mereka berjasa untuk Negara dan sebagai rasa terimakasih pemerintah dan rakyat Indonesia, secara resmi pemerintah mengundang keluarga Dalimin untuk menghadiri jamuan makan di Istana Negara. Dan sehari sebelum itu akan ada konferensi pers dengan Pak Dalimin agar saudara-saudara dapat mengetahui kisah sesungguhnya dari kepahlawanan Pak Dalimin," ujar Moerdiono dalam konferensi persnya di Sekretariat Negara di hadapan wartawan dalam dan luar negeri.

Persiapan protokoler pun dilakukan, bahkan keberangkatan keluarga Dalimin ke Jakarta pun di lakukan dengln persiapan khusus, pesawat khusus, dan pengawalan khusus. Maklum ini adalah peristiwa bersejarah untuk kampanye ke masyarakat tentang warganegara yang baik (good citizen). Setiba di Jakarta, keluarga petani Dalimin ditempatkan di salah satu kamar di Istana Negara.

Tibalah hari di mana, Dalimin dan Isteri akan memberikan konferensi pers yang berdasarkan jadwal dilakukan di salah satu ruang di Istana Negara. Segala persiapan untuk konferensi pers telah dilakukan, dan Moerdiono akan bertindak sebagai moderator. Ratusan wartawan tulis - dalam dan luar negeri - telah bersiap, para wartawan foto telah mengambil posisi masing-masing.

Moerdiono pun segera menuju kamar di mana keluarga Dalimin menginap untuk menjemput mereka menuju ruang konferensi pers. Alangkah kagetnya Moerdiono, ketika ia menjumpai kedua suami isteri itu sedang berpelukan menangis.

"Ada apa gerangan? Bukankah seharusnya mereka bangga atas apa yang telah mereka lakukan. Ah, mungkin itu sebagai ungkapan rasa bangga dan haru mereka," begitu tanya Moerdiono dalam hati.

"Pak Dalimin ada apa? Berhentilah menangis. Saya paham bagaimana bangganya bapak dan ibu, tapi untuk sementara hentikanlah menangis, mari kita ke ruang konferensi pers, para wartawan telah menunggu," ujar Moerdiono.

Petani Dalimin tiba-tiba menghentikan tangisnya, ia berbalik ke arah Moerdiono. "Pak Menteri lebih baik batalkan pertemuan dengan wartawan dan pulangkan kami ke Sumatera," ucapnya.

"Lho kenapa Pak Dalimin," jawab Moerdiono tak paham.

"Kalau wajah kami ada di koran-koran dan tivi, maka rakyat jadi kenal siapa kami. Kami akan dibunuh rakyat pak Menteri," kata Dalimin kali ini dengan tangis yang lebih keras seraya memeluk sang isteri tercinta.

Back.jpg (8147 bytes)


Soeharto Bertemu Rasul Paulus

Pada saat hari penghakiman (kiamat) Rasul Paulus merasa perlu untuk mewawancara tokoh-tokoh dunia yang pernah melakukan pembunuhan massal, yaitu Adolf Hitler, Kaisar Nero, Pol Pot dan "the last but not least" Soeharto. Mereka dikumpulkan di hadapan Rasul Paulus.

"Tahukah Anda sekalian mengapa aku memanggil kalian? Karena aku ingin mendengar langsung dari kalian, apa yang pernah kalian lakukan terhadap sesama kalian saat kalian hidup sebagai pemimpin dan berkuasa dahulu," ucap Rasul Paulus seraya menambahkan bahwa sebenarnya ia melakukan tugas wawancara ini atas kehendak Tuhan Yang Maha Esa.

Rasul Paulus mengungkap bahwa dirinya dipilih Tuhan - bukan Rasul Petrus atau lainnya - untuk mewawancara tokoh-tokoh tersebut, karena ia dan jemaatnya dahulu adalah korban keganasan/kebiadaban Kaisar Nero yang membunuhi umat Nasrani dan membakar habis kota Roma.

"Jadi aku minta satu per satu kalian menceritakan segala hal tentang peristiwa-perisiiwa pembantaian itu," kata Rasul Paulus.

Dasar mantan diktator megalomania, keempat orang itu hampir berebut untuk menceritakan kisah-kisah yang diminta Rasul Paulus. Terpaksa Rasul Paulus menengahi. Disepakati urut-urutannya adalah Nero-Hitler-Pol Pot-Soeharto. Dasarnya adalah periodisasi waktu. Keempat tokoh tersebut menyetujui jalan ke luar yang diambil Rasul Paulus.

Mulailah Nero bercerita, masih tetap dengan kecongkakan khas seorang kaisar Romawi. Tidak ada rasa penyesalan meski pun yang berdiri dihadapannya, Rasul Paulus, merupakan korban kebiadabannya juga.

Setelah Nero, tiba giliran Hitler. Ia mengawali dengan salam khas NAZI. "Auf Lebensraum!" ucapnya. Menurutnya, ras Arya adalah yang terbaik, jadi pembantaian 3,5 juta orang Yahudi adalah wajar dan perlu. Bukan karena ras Arya khawatir dengan kecerdasan orang Yahudi, sehingga dikhawatirkan dapat menjadi batu sandungan untuk mengembangkan hegemoni ras Arya.

Giliran Pol Pot tiba. Ia membenarkan bahwa "ladang pembantaian" (killing fields) yang pernah dilakukannya di Kamboja - yang memakan korban lebih 2 juta nyawa. "Hal itu saya lakukan untuk membersihkan bangsa Khmer dari virus pikiran jahat kaum borjuis kecil, tuan tanah dan bangsawan Khmer," ujar Pol Pot.

Rasul Paulus mendengarkan semua cerita dan penjelasan ketiga tokoh tadi dengan tekun dan diam. "Sekarang giliranmu, Harto," ucap Rasul Paulus.

Seperti biasa, sebelum berpidato atau berbicara, ketika ia masih menjadi Presiden Indonesia lebih tiga dasawarsa, kali ini pun diawali dengan deheman khasnya. "Ehem. Terima kasih atas kesempatan yang diberiken daripada Yang Mulia Rasul kepada saya," katanya mengawali penjelasan yang diberikan.

"Saya tidak aken bercerita panjang lebar seperti anda-anda sekalian. Anda-anda bercerita dengan rasa bang;ga yang besar di hadapan daripada Yang Mulia Rasul Paulus seolah-olah andalah yang terhebat dan terbesar dalam urusan daripada bantai-membantai sesama umat manusia," kata Soeharto tegas dan lantang.

"Begini saja daripada Yang Mulia Rasul Paulus. Kelebihan daripada Hitler adalah membunuhi jutaan orang yang kemudian dapat diketahui persis berapa jumlah korbannya dan berasal dari kamp-kamp konsentrasi mana mayat-mayat itu berasal. Tapi ia sendiri hingga kini tidak diketahui dimana daripada kuburnya berada. Hitler masih jadi misteri, jangankan kuburnya, bahkan apakah ia mati bunuh diri atau tidak semua masih misteri."

"Nero betapa pun hebatnya, para sejarawan berabad-abad kemudian dapat mengkisahken dan mengungkap sedetil-detilnya daripada peristiwa Roma lautan api dengan baik. Bahken sudah difilmken toh?"

"Pol Pot. Okelah kelebihannya bahwa ia dapat daripada bersembunyi di hutan puluhan tahun. Tapi bukankah, ladang pembantaian itu dapat dibongkar dan diketahui oleh rezim sesudah Pol Pot. Dunia internasional mengetahui hal itu, dan kalau tidak, salah daripada Yang Mulia, bukankah juga sudah difilmken oleh sutradara Amerika yang orangnya juga ada disini," jelas Soeharto.

Ketiga tokoh yang merasa dilecehkan itu menjadi tidak sabar, secara serempak mereka bertanya. "Lalu apa kelebihanmu Harto?" tanya mereka hampir bersamaan.

"Kalian mati atau menghilang boleh secara misterius, tapi korban-korban kalian kan kemudian dapat diketahui kuburnya atau keberadaannya. Kalau saya Yang Mulia, bukanlah saya yang jadi misterius, tapi korban-korban inilah yang jadi misterius tidak jelas daripada dimana jasadnya berada dan dengan cara apa dan bagaimana mereka dilenyapkan!" kata Soeharto seraya membeberkan berbagai peristiwa lenyapnya korban yang tetap misteri hingga hari penghakiman (kiamat) itu seperti kasus G-30-S, Tanjung Priok, Gunung Balak, Peristiwa Lampung, Penembakan Misterius (Petrus), Penumpasan GPK di Aceh-Timtim-Irian Peristiwa 27 Juli.

Sekonyong-konyong, Soeharto mendekat Rasul Paulus, lalu berbisik, "Omong-omong, kalau daripada Yang Mulia sepakat, tolong sampaikan ke Boss Besar (yang dimaksud Soeharto adalah Tuhan YME), bahwa saya bisa membantu beliau untuk memberi tip cara melenyapkan manusia-manusia terhukum di hari kiamat ini!"

Back.jpg (8147 bytes)


Tentara Terkuat

Menurut seorang analis militer Singapura, angkatan bersenJata Indonesia adalah kekuatan militer paling kuat di dunia. Angkatan Darat-nya dengan mudah mengalahkan demonstran, Angkatan Udara-nya selalu berhasil membidik udara kosong, dan Angkatan Lautnya melumpuhkan kekuatan bonek. Sementara itu Kepolisian-nya dengan cepat bisa merobohkan para pemain bola dengan gas air mata.

Back.jpg (8147 bytes)


Jangan di Depan Umum

Habibie selesai dioperasi jantung dengan sukses di Jerman (habis, di mana lagi). Dia pulang terbang ke Jakarta dengan Lufthansa. Sampai di bandara Cengkareng dia lihat, dari jendela pesawat , bahwa sudah banyak para pengagumnya menanti. Baik dari kalangan KMI mau pun dari BPPT.

Habibie tahu bahwa orang-orang itu sangat mencintainya, sangat mengharapkan kesehatannya pulih kembali, dan sebab itu dia ingin memberi kesan bahwa dia punya Gesundheit atawa kesehatan adalah walafiat atawa baik belaka. Waktu turun dari tangga nesawat, dengan gagah dia loncat dari anak tangga terakhir, ke tarmac (aspal landasan).

Di barisan depan penyambut ada Nasir Tamara, pengagumnya nomor wahid. Nasir sangat kaget dan terpesona dengan demonstasi kecil itu, dan datang memeluk Habibie. "Mein Gott" seru Nasir berdecak.

Habibie pun menjawab sambil berbisik, "Ach, Nasir, ingat ya, kalau di depan umum panggil saja saya Pak Habibie!"

Back.jpg (8147 bytes)


Ingin Sampaikan Kabar Gembira

Hari Rabu pekan lalu seorang perempuan cantik datang ke Departemen Penerangan. Ia menemui petugas penerima tamu dan mengatakan niatnya: mau ketemu Menteri Penerangan Harmoko. Petugas pun memberitahu bahwa Harmoko sudah bukan Menpen.

Perempuan cantik itu kemudian pergi. Tapi satu jam kemudian dia muncul. "Saya ingin menghadap Pak Harmoko," katanya kepada petugas yang sama. Dan petugas yang sama, dengan sedikit heran, tetap menerangkan bahwa Pak Harmoko sudah bukan Menpen lagi.

Perempuan itu pun sekali lagi pergi. Anehnya, setengah jam kemudian dia muncul kembali ke petugas yang sama dan mengatakan hal yang sama: mau ketemu Pak Harmoko. Para petugas mulai curiga dan menganggap ada yang aneh di sini. Maka mereka melapor ke atasan. Dan laporan sampai ke Dirjen Subrata.

Karena jadi ingin tahu, Subrata menunggu sampai perempuan cantik itu muncul lagi. Benar juga. Si Dia datang, dan kembali meminta mau ketemu "Pak Harmoko, Menteri Penerangan". Kali ini Subrata yang menerangkan, "Lho, kan Ibu sudah beberapa kali datang tadi, dan sudah berkali-kali kami beritahu bahwa Pak Harmoko sudah bukan Menteri Penerangan lagi. Kok datang lagi, datang lagi?"

Jawab perempuan itu, "Itu dia, Pak. Saya datang berkali-kali supaya berkali-kali pula saya dengar kabar gembira itu."

Back.jpg (8147 bytes)


Untung Bukan Malam Hari

Dua orang preman dan seorang Timor-Timur bertemu di penjara Cipinang, mereka semua sudah dijatuhi hukuman. Preman yang satu mengatakan dia dihukum 10 tahun karena mencoba membunuh seorang cukong. Tapi ia merasa beruntung karena pembunuhan tidak terjadi. Kalau terjadi, dia bisa kena 20 tahun.

Preman yang satu lagi bilang dia dihukum 5 tahun karena mencoba memperkosa istri penjual bakso, tapi dia merasa beruntung karena perkosaan tidak terjadi. Kalau terjadi, dia bisa masuk 10 tahun.

Orang Timor Timur bercerita dia dihukum 13 tahun karena kedapatan naik motor tanpa menyalakan lampu. Tapi untung, katanya, itu terjadi bukan waktu malam hari.

Back.jpg (8147 bytes)


Nanti Saya Laporkan

Seseorang pernah mendengar percakapan berikut ini dari balik pintu kamar. Kedengaran Mbak Tutut berkata kepada Hartono, "Ayo, copot bajuku". (Lalu terdengar suara baju dicopot).

Tak lama kemudian, "Sekarang, copot kainku". (Terdengar suara kain dilepas). Setelah itu, "Ayo, lepaskan kutangku. Juga celana dalamku!".

Sehabis itu tak ada suara selama lima detik. Lalu terdengar suara Mbak Tutut marah, "Hartono, saya akan laporkan kepada Bapak kalau sekali lagi kamu berani memakai baju, kain, kutang dan celana dalam saya!"

Back.jpg (8147 bytes)


Akibat Tak Segera Bereaksi

Ada sebuah informasi yang baru kali ini dapat diperoleh. Dua hari setelah Ibu Tien meninggal, tujuh anggota pasukan pengaman presiden (Paspampres) ditahan dan diinterogasi oleh BIA. Soalnya, kata sumber yang layak dipercaya, ada kecurigaan: Ibu Tien kena serangan jantung, kenapa pasukan tidak segera mengadakan serangan balasan?

Back.jpg (8147 bytes)


Teka-teki Suksesi

Try Sutrisno ingin belajar dari Lee Kuan Yew bagaimana caranya memilih menteri yang pintar. Maka dia datang ke Singapura diam-diam.

Bagaimana caranya memilih menteri yang pintar, Pak Lee? Gampang, jawab Lee, "Kita test saja kecerdasannya." Dan tokoh Singapura itu pun memanggil perdana menterinya, Goh Chok Tong. Lee mengajukan satu pertanyaan yang harus dijawab Goh dengan cepat dan tepat:

"Hai, Chok Tong, misalkan orangtuamu punya anak tiga orang. Siapakah gerangan anak yang bukan kakakmu, dan bukan pula adikmu?" Goh menjawab tangkas, "Ya itu saya sendiri."

Lee bertepuk tangan, "Angka 10 untuk Goh. Sebab itu dia kupilih!".

Try Sutrisno sangat terkesan kepada cara memilih gaya Lee Kuan Yew ini. Dia pulang ke Jakarta dan segera mau menguji Harmoko.

"Pak Harmoko,’’ kata Try, "Saya ingin menguji sampeyan. Ada satu pertanyaan yang harus sampeyan jawab: misalkan orang tua sampeyan punya anak tiga orang. Siapakah gerangan anak yang bukan kakak sampeyan, dan bukan pula adik sampeyan?"

Ternyata Harmoko tidak segera bisa menjawab. Tapi dia punya akal dan minta permisi sebentar ke luar ruangan, dimana menunggu Subrata. "Coba, Mas Brata," katanya kepada bawahannya ini. "Misalkan orang tua situ punya anak tiga.

Siapa gerangan anak yang bukan kakaknya situ dan bukan pula adiknya situ?"

Subrata berpikir lima menit, lalu menjawab: "Itu saya, Pak."

Harmoko senang, dan masuk kembali ke ruang Try Sutrisno. Dia langsung maju. "Jadi tadi petunjuknya ...eh, pertanyaannya bagaimana, Pak Try?".

Try dengan sabar mengulangi, "Orang tua sampeyan punya anak tiga orang. Siapakah anak yang bukan kakak sampeyan dan bukan adik sampeyan?"

Harmoko kali ini menjawab tangkas: "Ya, Subrata, Pak!".

Try ketawa geli. "Pak Harmoko ini gimana! Jawabnya yang benar, ya, Goh Chok Tong, dong!"

Back.jpg (8147 bytes)


Sama-Sama Bego

Suyono dan Syarwan pergi mancing, mengikuti jejak Soeharto. Mereka menyewa satu perahu dan berangkat ke arah Pulau Seribu.

Di laut dekat Pulau Putri, mereka berhasil menangkap seekor ikan barakuda yang besar. Mereka saling bersalaman, saking gembira. "Ayo kita tandai laut itu, supaya kalau kita mancing lain kali bisa mudah menemukan tempatnya", usul Syarwan. Suyono setuju. Ia pun mengambil cat hitam dan terjun ke laut, dan membuat satu huruf "X" di suatu tempat, dan satu-satunya tempat yang bisa ia cat adalah dasar perahu.

Syarwan punya ide yang lebih bargus: "Yon, tandanya dibikin besar, dong. Biar ‘ntar mudah dicari kalau kita pakai perahu ini lagi."

Back.jpg (8147 bytes)


Beda Harmoko dan Madonna

Dua mahasiswa saling melemparkan tebakan untuk adu kepintaran. Si A bertanya pada B, "Apa perbedaan dan persamaan antara kepala Harmoko dan pantat penyanyi seksi, Madonna?"

"Ah gampang. Kalau kepala Harmoko itu belah pinggir, sedang pantat Madonna belah tengah. Tapi isi keduanya sama," sahut si B.

Si A pun manggut-manggut mengakui kepintaran temannya tersebut.

Back.jpg (8147 bytes)


Jendral Kuper

Tersebutlah tiga orang bersaudara. Seorang buruh tani dari Siantar, seorang konglomerat, dan seorang jenderal masih bersaudara. Sang konglomerat mengajak mereka ke restoran "steak" yang terkenal di Jakarta.

Tapi mereka datang agak terlambat. Begitu masuk, si pelayan utama restoran itu dengan sopan menemui mereka dan mengatakan, bahwa restoran tak bisa melayani lagi.

"Maaf, kami kekurangan daging impor," kata sang pelayan.

Buruh tani bertanya, "Daging impor itu apa, sih?"

Si konglomerat bertanya, "Kekurangan itu apa?"

Sedangkan si jenderal bertanya, "Maaf itu apa?"

Back.jpg (8147 bytes)


Ramalan untuk Gubenur Jateng

Seorang berwajah India mendatangi Gubernur Jawa Tengah waktu beliau sedang main golf. Kepada Pak Gub, si India berbisik dengan serius, "Saya berani pastikan sesuatu akan terjadi. Dalam waktu sebulan ini, pantat Bapak akan pelan-pelan berbentuk beringin dan berwarna kuning."

Pak Gub kaget, mau marah, tapi si India berkata lagi: "Saya bisa meramal, Bapak, percayalah! Kalau dalam tempo sebulan ini pantat Bapak tidak berubah jadi berbentuk beringin dan menjadi kuning, saya akan mengaku kalah. Saya akan bayar Bapak Rp 100 juta."

Gubernur Jawa Tengah yakin, si India akan kalah. "Oke, kita bertaruh saja! Kalau pantat saya berubah seperti kamu ramal, saya bayar kamu Rp 100 juta. Kalau udak berubah, kamu bayar saya Rp 100 juta!"

"Oke, oke. Kita bertaruh!", jawab di India.

Semenjak itu, setiap pagi, sehabis mandi, sebelum ke kantor, Pak Gub diam-diam membuka celana dan melihat pantatnya sendiri di cermin.

Mengecek. Dia cemas juga, sebenarnya, jangan-jangan si India benar. Kadang-kadang dia memang melihat sedikit warna kuning di pantat nya sendiri, tapi alhamdulillah, bentuk itu pantat masih normal, belum jadi seperti beringin. Begitulah tiap hari dia bilang alhamdulillah bahwa pantatnya masih seperti dulu.

Pada akhir bulan, dia datang ke kantor pagi-pagi. Itu lah hari yang menentukan dia menang atau kalah. Tapi agak kaget juga dia, lantaran di ruang tunggu tamu pagi-pagi itu si India sudah duduk menanti. Juga agak heran Pak Gub kita, karena bersama si India ada seorang dengan wajah Cina, yang kemudian diperkenalkan kepadanya sebagai Bob Hassan.

Si India berbisik kepada Gubenur Jawa Tengah: "Bapak, kita berdua perlu wasit. Maka saya bawa Si Bob ini bersama saya pagi ini, untuk jadi wasit, mana di antara kita yang menang. Bapak setuju, ‘kan?"

Pak Gub setuju. Dia bersemangat, karena tadi pagi sebelum berangkat dia sudah mengadakan pengecekan atas kondisi pantat sendiri, dan tak ada perubahan yang nampak. Berarti di akan dapat uang.

Tapi kita ceritakan saja dulu bahwa mereka segera masuk ke dalam ruang duduk Pak Gub. Ajudan disuruh pergi, juga sekretaris. Yang ada di kamar itu cuma Pak Gub, si India, dan Bob Hasan.

Pak Gub pun naik ke atas meja. "Lihat!", serunya dengan percaya diri sendiri. "Kalian lihat sendiri bagaimana pantatku!". Dan Pak Gub di atas meja itu membuka celananya dan diperlihatkannyalah pantatnya kedepan kedua tamunya.

Si India nampak kecewa. Ia pun berbisik kepada Bob Hassan, yang segera pergi keluar dari ruangan. Lalu si India berkata kepada Gubernur Kita: "Bapak yang menang, saya yang kalah, saya bayar Bapak Rp. 100 juta. Kontan!". Dan dari tas kulitnya dia keluarkan uang bundelan. Setelah dihitung, ada Rp 100 juta banyaknya.

Pak Gub berwajah sumringah. "Makanya jangan takabur. Sok pinter meramal!" begitu nasehat dan cemoohnya kepada si India. Lalu dia menyuruh si India keluar. Segera setelah itu, dia panggil sekretaris dan ajudannya. Dia mau traktir mereka makan di Hotel Santika dengan uang kemenangan mudah itu. Tapi dia lihat ajudannya gugup. Ada apa?

Ternyata sang ajudan melihat si India ketawa lebar ketika keluar dari ruang Pak Gub. "Gue menang!", serunya kepada Bob Hasan yang masih duduk di ruang tunggu. "Lu harus bayar gue Rp 300 juta!".

Adapun sebelum datang rupanya si India bertaruh dengan Bob Hasan: pagi itu dia akan bisa membuat Gubernur Jawa Tengah mempertontonkan pantatnya kepadanya.

Back.jpg (8147 bytes)


Feisal Kehilangan Jip

Waktu masih berpangkat kapten, Feisal masuk sendirian ke sebuah bar di Jalan Blora, lalu pesan satu gelas bir. Dia minum itu bir pelan-pelan, tapi sebelum habis dia keluar sebentar. Didapatkannya bahwa jip yang dibawanya tadi tidak ada lagi di tempat parkir. Ia masuk kembali ke bar dan mencabut pistolnya, lalu menembakkannya ke atas sambil berteriak, "SIAPA DI ANTARA BUSYET-BUSYET DI SINI YANG BERANI MENCURI JIP GUA?"

Tidak ada seorang pun dalam bar itu yang berani menjawab. Feisal menaruh pistolnya di meja, lalu teriak lagi, "OKE, DEH GUA PESAN SATU GELAS BIR LAGI, DAN KALAU NANTI GUA HABIS MINUM ITU JIP KAGAK KEMBALI LAGI DI TEMPATNYA, GUA BAKAL LAKUKEN APA YANG GUE PERNAH LAKUKEN DI MANGGA BESAR!"

Ia pesan segelas bir lagi, dia tenggak, lalu dia melangkah ke luar. Eh, itu jip memang betul sudah kembali ke tempatnya. Maka dia pun naik ke mobilnya tapi kemudian teringat bahwa dia belum bayar birnya.

Waktu Feisal mau membayar, si penjaga bar bertanya, "Emangnya apa nyang dulu Ente lakuken di Mangga Besar?"

Feisal: "Maksud lu waktu jip gua nggak kembali?". Si penjaga bar mengangguk.

Feisal: "Ya gua pulang, jalan kaki."

Back.jpg (8147 bytes)


Kiat Mancing Ikan

Semua orang tahu bahwa Soeharto punya hobby mancing. Semua orang juga tahu bahwa Soeharto kalau pergi memancing, pulangnya selalu membawa pulang ikan berukuran besar.

Beredar desas-desus bahwa sehari sebelum Soeharto mancing biasanya diterjunkan satuan IPAM dari Korps Marinir atas perintah Komandan Paspampres. Konon mereka ini, tanpa sepengetahuan Soeharto, mendapat tugas untuk memasang moncong ikan berukuran besar pada mata pancing milik Soeharto. Tujuannya apa lagi kalau bukan untuk menyenangkan Soeharto.

Terus terang banyak kalangan, termasuk sejumlah menteri dan Feisal, penasaran dengan kebenaran ini. Untuk mengecek kebenaran tersebut Feisal dengan sejumlah menteri lantas mengatur sebuah acara mancing bersama di sebuah kawasan di sekitar Kepulauan Seribu. Kali ini Feisal secara khusus memanggil komandan marinir dan kepala staf angkatan laut.

"Khusus kali ini saya tugaskan kalian agar menjaga wilayah perairan Kepulauan Seribu. Tolong jaga sebulan sebelumnya. Jangan sampai ada kapal lewat, atau seorangpun yang masuk ke air. Saya kali ini ingin mengecek apa Soeharto memang jago mancing," kata Feisal.

Pada hari H berangkatlah Soeharto beserta Feisal dan sejumlah menteri. Tiba di kawasan yang telah dipilih, setiap orang lantas mengeluarkan pancingnya dan melempar kail.

Teriakan pertama muncul dari Soeharto. Rupanya pancingnya berhasil mengkait sebuah ikan besar. Begitu berkali-kali. Padahal Feisal sendiri seperti halnya Habibie cuma dapat ikan seukuran kepalan tangan. Malah Harmoko belum dapat apa-apa.

Akhirnya Feisal pun yang penasaran memberanikan diri mendekati Soeharto. "Pak, terus terang kami kagum dengan kemampuan Bapak dalam hal memancing. Bisakah Bapak berikan rahasianya kepada kami," ujar Feisal.

"Lho, kamu selama ini belum tahu toh. Ah itu kan gampang saja. Ini lho," ujar Soeharto tersenyum sambil menarik mata kailnya dan menunjukkan sebuah plastik kecil bertuliskan "pilih: Makan Kail, Ikut P-4, atau Ikut Pembekalan".

Back.jpg (8147 bytes)


Syarwan di Bosnia

Syarwan ditugaskan ke Bosnia, bergabung dengan pasukan PBB yang menjaga perdamaian di sana. Posnya ada di sebuah daerah terpencil, di kaki pegunungan yang sunyi. Selama sebulan? Syarwan mencoba menahan diri untuk tidak memenuhi kebutuhan seks-nya. Tapi akhirnya dia tak tahan. Dia datang ke koleganya, seorang perwira Arab, dan bertanya bagaimana caranya "gituan" di daerah terpencil ini.

Jawab sang perwira Arab, "Kamu bisa pakai kuda di belakang markas itu."

Syarwan ingat Pancasila dan Sapta Marga, maka bertekad ia tak mau melakukan perbuatan nista ini. Tapi pada bulan ke dua, ia tak tahan lagi. Dia datang ke rekannya yang lain, seorang perwira India dan menanyakan hal yang sama.

Dia juga dapat jawaban yang sama, "Kamu bisa pakai kuda di belakang markas itu."

Syarwan diam, tapi tetap ingat Pancasila dan Sapta Marga. Sampai akhirnya di bulan kelima, dia tak tahan lagi. Dia mendatangi si perwira Arab dan berbisik, malu-malu, bahwa dia mau "gituan".

Si Arab mengangguk simpatik, "Silakan pakai kuda itu, ini memang giliranmu."

Nah, Syarwan pun dengan bersijingkat mendatangi si kuda, dan melampiaskan hasratnya di tubuh hewan itu. Lalu dia kembali ke si perwira Arab sambil senyum kecil, "Wah, thank you, saya sudah pakai kudanya."

"Ah, tak perlu berterima kasih. Semua orang di sini kalau mau datang ke bordil di bukit itu memang biasanya naik kuda."

Back.jpg (8147 bytes)


Lebih Baik Mati Sekarang

Ada lima diplomat dari negara ASEAN berkunjung ke Kamboja untuk ikut menyelesaikan krisis politik di sana. Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih, dalam perjalanan ke luar kota Pnompenh mereka disergap Khmer Merah, dan dibawa ke hutan. Mereka diadili dan dinyatakan bersalah dan dihukum mati. Tapi karena Khmer Merah kali ini agak peduli dengan hak-hak asasi manusia, para diplomat ASEAN itu tidak akan ditembak serentak, tetapi satu demi satu harus loncat ke dalam kuali besar yang mendidih airnya. Sebelum itu, mereka dijanjikan akan dipenuhi permintaan mereka terakhir asalkan bukan permintaan untuk dibebaskan.

Syahdan, diplomat Thailand minta didatangkan seorang bhiksu Budha, untuk memberinya doa penghabisan. Maka didatangkanlah seorang bhiksu dari dusun perbatasan. Syahdan, diplomat dan Filipina minta didatangkan seorang pastor, juga untuk doa terakhir. Maka didatangkanlah seorang romo dari sebuah paroki di dekat Pnompenh. Sedangkan diplomat dari Malaysia minta diberi doa oleh seorang ulama. Maka didatangkanlah seorang ulama da kalangan jemaah masjid di Battambang.

Kemudian datang giliran diplomat dari Indonesia. Disitulah tiba-tiba ada insiden. Sang diplomat dari Singapura berteriak. "Saya ingin mati sekarang saja! Biar saya mati lebih dulu!"

"Lho, kenapa, Bung?" tanya anak buah Pol Pot.

"Saya ingin mati sekarang saja! Saya tidak akan tahan mendengar siapa yang akan didatangkan rekan saya dari Indonesia! Dia pasti minta penataran P-4!"

Back.jpg (8147 bytes)


Awas Lubang Buaya

Cerita ini teriadi ketika Marcos masih berkuasa di Filipina dan Ibu Tien masih hidup. Suatu kali Imelda harus mewakili suaminya mengadakan kunjungan kenegaraan ke Indonesia. Pemerintah Indonesia betul-betul mempersiapkan penyambutan serius terhadap ibu negara yang terkenal kecantikannya itu.

Soeharto dan Tien turut menjemput Imelda di Bandara. Ketika pesawat pesawat militer Filipina yang membawa Imelda beserta rombongan mendarat keluarlah seorang perempuan dengan rok menyala warna merah. Ia turun dengan langkah anggunnya yang langsung menerima kalungan bunga dari Soeharto.

Pak Harto sendiri terkagum-kagum melihat kecantikan Imelda yang meski telah cukup berumur tapi kulitnya yang putih masih tampak kencang.

Ketika sampai di Wisma Negara, rupanya Soeharto tak lagi bisa menyembunyikan rasa kagumanya. "Anda betul-betul cantik sekali."

"Ah, Anda juga tampan kok," ujar Imelda yang mengundang kecemburuan Ibu Tien.

Rupanya bincang-bincang yang dilakukan secara khusus itu kian menjurus. Soeharto lantas bilang dengan nada berbisik, "Saya mau terus terang ya. Begini saya secara khusus sebetulnya telah menyediakan Monumen Nasional Monas yang telah berdiri tegak dengan gagahnya khusus untuk Anda."

Imelda sambil tersenyum-senyum rupanya tak mau kalah. "Ah ya. Omong-omong saya juga telah mempersiapkan rumput Manila yang secara khusus didatangkan dari Filipina."

Rupanya Bu Tien yang berada di dekat Soeharto mendengar jawaban Imelda atas ucapan suaminya itu. "O-ala, Pak! Lha kok Anda cari rumput dari Manila segala. Di sini kan sudah ada keong emas," ucap Bu Tien sambil menunjuk bagian tubuh yang dimaksudkannya.

Dan ketika rayuan antara Soeharto dan Imelda kian menjurus, Bu Tien jadi tak sabar lagi. "Awas lho, Pak! Saya ingatkan bahwa di situ juga ada Lubang Buaya yang pernah menelan nyawa tujuh Pahlawan Revolusi," ujar Bu Tien sambil kembali menunjuk sebuah bagian tubuhnya yang kontan bikin wajah Pak Harto jadi pucat pasi.

Back.jpg (8147 bytes)


Kapitalis, Sosialis dan Pancasila

"Apa bedanya Kapitalisme dan Sosialisme?" "Kapitalisme membuat kekeliruan sosial!," "Sosialisme membuat kekeliruan kapital!" "Lha, kalau Pancasila?" "Pancasilaisme di bawah Orde baru membuat kekeliruan sosial sekaligus kekeliruan kapital!"

Back.jpg (8147 bytes)


Benar-benar Merdeka

Pada peringatan Kemerdekaan RI ke-52, kantor KOMNAS HAM menerima berbagai surat. Di antaranya adalah beberapa kartupos bergambar bertuliskan;

Salam dari Aceh Merdeka.

Salam dari Padang Merdeka.

Salam dari Papua Merdeka.

Salam dari Timtim Merdeka.

Salam dari Kopenhagen, dari Hasan Tiro yang merdeka!

Back.jpg (8147 bytes)


Cita-cita

Soeharto sedang mencari udara segar dengan sejumlah orang cucunya di Tapos di lereng Gunung Salak.

"Nah," ia bertanya kepada seorang cucunya yang masih kecil yang beberapa waktu lalu muncul mengaji di TV, "Sudah tahu engkau, apa yang engkau cita-citakan untuk kemudian hari?"

"Presiden Republik Indonesia," jawab anak Bambang Tri tersebut.

"Ah, sayang sekali itu tak mungkin, karena menurut undang-undang hanya selalu ada satu presiden, dan itu adalah Eyang sendiri."

Back.jpg (8147 bytes)


Kelangkaan Hakim Jujur

Seorang janda muda di Jakarta mengatakan dengan bangga kepada temannya: "Kau sudah tahu siapa yang akan mengawiniku? Seorang hakim agung dan seorang yang amat jujur!".

Temannya heran: "Lho, kamu bakal punya suami dua orang?"

Back.jpg (8147 bytes)


Naskah Proklamasi

Di sebuah desa di Timor Timur, seorang kepala sekolah yang berasal dari Jakarta baru datang untuk bertugas. Di hari pertama ia bertemu dengan para murid kelas enam, "Anak-anak, siapa yang menulis dan menandatangani naskah Proklamasi?" Tapi kelas itu cuma diam. Tidak ada yang menjawab. Pak Kepala Sekolah kecewa berat karena di antara murid kelas enam di sekolah itu tidak ada yang tahu nama Bung Karno dan Bung Hatta. Tapi ia tidak bilang apa-apa, dan baru mengemukakan kekecewaannya ini di depan rapat guru.

Di sore harinya Alfonso Soarez, guru kelas enam, yang cemas jangan-jangan dia akan dipecat, memanggil muridnya satu demi satu. Kepada setiap murid dia berkata dengan sungguh-sungguh. "Ini soal naskah proklamasi yang ditanya Bapak Kepala Sekolah tadi pagi. Sebaiknya kamu mengaku kalau kamu yang menulis dan menandatanganinya," ujarnya.

Back.jpg (8147 bytes)


Kentut Sehat

Soeharto mengadakan kunjungan kenegaraan ke Inggris. Ratu Elizabeth, yang sadar bahwa Indonesia merupakan partner bisnis yang potensial, menyambutnya secara kebesaran. Dari bandara sudah disediakan kereta kerajaan yang ditarik tujuh ekor kuda putih yang cantik, yang akan membawa tamu negara ke Istana Buckingham.

Setelah upacara penyambutan, Elizabeth menyilakan Presiden Indonesia naik. Begitulah mereka berdua dalam kereta. Di tengah perjalanan, tanpa ditemani penterjemah, Soeharto terus mengangguk sopan mendengarkan penjelasan Sri Ratu tentang gedung dan taman yang mereka lewati sepanjang jalan.

Syahdan, di dekat Taman Hyde Park, salah seekor kuda kereta kerajaan kentut keras sekali. Dan bau sekali. Sri Ratu agak malu, dan dengan tersipu-sipu dia bilang, "Tuan Presiden maaf, ya..."

Soeharto mengangguk, "O, tidak apa-apa, Baginda. Kentut itu sehat. Wong tadinya saya sangka yang kentut itu kuda, kok".

Back.jpg (8147 bytes)


Bahasa Isyarat

Selama dua periode menteri penerangan Harmoko dan Hartono - setidaknya sudah dua orang peraga bahasa isyarat di televisi dipecat, bahkan salah seorang hilang entah ke mana. Soalnya tiap kali penyiar menyebut "Menteri Penerangan ...", si peraga menyilangkan jari di jidatnya.

Back.jpg (8147 bytes)


Nasib Pegawai Pos

Di Jakarta seorang pegawai baru kantor pos dipecat karena kelewat semangat mencap prangko. Sudah lima tangkai stempel sampai patah, logam cap sampai cacat dibuatnya, karena tiap kali melihat prangko bergambar orang pakai peci ia langsung menghajarnya dengan stempel, sekuat tenaga, berkali-kali, sembari berteriak, "Rasain lu!"

Back.jpg (8147 bytes)


Presiden Seumur Hidup

"Mengapa Bapak hanya ikut Pemilu sekali, pada 1971 itu?" tanya seorang peneliti pada respondennya. Yang ditanya, pria berumur 50 tahun menjawab enteng: " Lho, buat apa ikut Pemilu berkali-kali, toh yang kita pilih itu presiden seumur hidup."

Back.jpg (8147 bytes)


Presiden ke Berapa?

Seorang guru SD didebat muridnya, "Kok sudah setengah abad merdeka kita cuma punya dua presiden?"

Dengan datar dan sabar, Pak Guru menjawab, "Ah nggak. Soeharto adalah presiden ke enam republik ini. Kabarnya, presiden ke tujuh nanti namanya sama. Tak tahulah siapa presiden ke delapan nanti."

Back.jpg (8147 bytes)


Presiden Sama Terus

Seorang murid TK Kecil kecewa pada ayahnya. Karena saat si anak tanya, "Waktu ayah kelas nol, siapa presiden kita?" Jawab ayahnya, "Soeharto."

Pertanyaan meningkat waktu si ayah SD, SMP, SMA, kuliah, siapa presidennya - jawabannya tetap: "Soeharto."

Si anak menyergah, "Ah, ayah payah dah, Apa nggak ada nama lain?"

Back.jpg (8147 bytes)


Srimulat Berubah Format

Seorang antropolog asal Suriname, yang sedang berkunjung ke Indonesia, ingin melihat selucu apa sih Srimulat di televisi. Tapi pada suatu Kamis malam, acara itu tertunda, untuk kemudian batal, lantaran ada laporan khusus berisi acara kepresidenan. "Lha mana Srimulatnya," gugat si tamu.

"Lho, lha ya tadi, yang namanya Laporan Khusus itu," jawab tuan rumah.

Back.jpg (8147 bytes)


Kreatif Tapi Sial

Sebuah stasiun televisi, di Indonesia, punya ahli tata suara yang andal. Dia ingin meniru upacara MTV Award dan Piala Oscar; yakni saat si bintang di panggung bilang "fuck", maka otomatis suara akan hilang. Ketika dia berhasil meng-install program agar bisa membuang kata "semangkin" dan "daripada", maka ia pun hilang berikut perangkatnya.

Back.jpg (8147 bytes)


Tiga Tipe Manusia Indonesia

Ada tiga ciri menonjol dari orang Indonesia di bawah Orde Baru, yaitu: jujur, pintar dan pro pemerintah. Tapi sayangnya manusia Indonesia hanya boleh memiliki dua ciri.

Artinya manusia Indonesia itu cuma ada tiga macam: Pertama, kalau dia jujur dan pro pemerintah biasanya tidak pintar; ke dua, kalau dia pintar dan pro pemerintah biasanya tidak jujur; ke tiga, kalau dia jujur dan pintar biasanya tidak pro pemerintah.

Back.jpg (8147 bytes)


Lapor

Mantan ajudan yang kemudian jadi Wapres, Try hampir mati. Soeharto yang datang membezoek berpesan, "Setelah kamu mati nanti, kamu harus menelepon daripada saya".

"Siap, Pak. Laksanakan," ujar Try tetap dengan gaya ajudannya.

Kemudian, keesokan harinya benar-benar mati. Besok malamnya Soeharto mendengar suara.

"Kau kah itu?" tanya Soeharto. "Bagaimana, engkau senang tinggal di sana?"

"Siap, Pak. Saya senang sekali," jawab Try, "jauh lebih senang daripada di dunia."

"Nah," kata Soeharto, "Sekarang kau ceritakan, seperti apa yang namanya daripada surga itu."

"Surga?" tanya Try, "Saya tidak di surga!"

Back.jpg (8147 bytes)


Teka-teki

Seorang perempuan cerdas, seorang jenderal cerdas dan sang Gatotkaca memasuki sebuah ruangan di sebuah lembaga penelitian aerodinamika.

Di depan pintu, sebuah robot menyodori mereka sebuah rumus untuk dipecahkan.

Pertanyaannya sekarang: siapa yang bisa menguraikan rumus itu?

Jawab: si perempuan cerdas. Mengapa? Sebab yang dua lainnya itu jenis makhluk yang tidak pernah ada di alam nyata.

Back.jpg (8147 bytes)


Keinginan Syarwan

Syarwan sebenarnya tidak tahu apa gerangan nasibnya nanti, setelah ia pensiun. Tetapi tentu saja ia punya ambisi di hatinya. Pada suatu saat ia berpuasa tujuh hari dan pantang makan garam dan daging, lalu pergi ke Gunung Lawu. Pada waktu maghrib, di bawah sebuah pohon rindang, ia memejamkan mata, berkonsentrasi diri.

Tiba-tiba ia mendengar suara, di belakangnya: "Jangan bersedih, hai insan. Aku ini seorang peri yang baik. Sebutkan saja tiga permintaan, dan itu akan saya penuhi asal saja ..."

Syarwan membuka matanya. Di dekatnya nampak seorang perempuan tua berambut panjang dengan kain hitam legam menutupi tubuhnya yang sudah kisut. Maka Syarwan pun mengangguk, hormat dan bertanya: "Apa syaratnya agar keinginan saya bisa dipenuhiya peri?".

"Setubuhi aku," jawab perempuan tua tadi.

Demi untuk mendapatkan semua keinginannya, maka ia pun menjalankan apa yang diperintahkan. Begitu selesai, sambil mengancingkan celananya kembali, ia langsung bertanya: "Sekarang, apakah boleh saya mengucapkan keinginanku?"

Sambil menutupkan kain ke tubuhnya perempuan tua itu menatap Syarwan dan bertanya: "Sebentar, nak. Berapa sekarang umurmu?".

"Limapuluh lima tahun. Kenapa?"

Jawab perempuan tadi dengan kalem: "Sudah tua kok masih percaya ada peri?"

Back.jpg (8147 bytes)


Pengalaman dengan Pak Komandan

Eddy lulus AKABRI jurusan kepolisian dan akhirnya jadi reserse kriminil. Ayahnya, seorang pengusaha yang kenal Kapolri yang sekarang, menitipkan kepada jendral polisi itu agar dapat dibimbing di Jakarta. Supaya cepat. Kapolri setuju setelah menerima Rp 1 milyar. Eddy ditugaskan di bawah asuhan langsung Dan Reskrim Gories Mere yang termashur itu.

Beberapa bulan kemudian, waktu Eddy mengunjungi ayahnya, si ayah bertanya: "Apa yang sudah kamu dapatkan dari pengalamanmu di bawah Pak Gories, Nak?".

"Ada, ayah. Saya punya pengalaman yang menarik dengan Pak Gories Mere." Lalu Eddy bercerita kepada ayahnya: "Pada suatu malam, kami dapat telepon dari bagian sekuriti Hotel Grand Hyatt. Rupanya di sebuah kamar ditemukan perempuan dan seorang pria mati dalam keadaan tidur dan telanjang. Mereka rupanya orang Amerika."

"Wah! Lalu apa yang Pak Gories lakukan, nak?" tanya si ayah kagum.

"Pak Gories dengan tenang memakai topi beliau mengambil tongkat komando, dan sebelum berangkat meneguk vodka tonik yang tersedia di sudut meja. Beliau tidak pernah tergesa-gesa, Ayah. Beliau selalu kalem dan lalu beliau menyuruh saya mengiringi masuk ke mobil. Mobil pun berangkat ke Grand Hyatt.

Kami menemui manajer hotel, dan kepada kami diberitahu nomor kamar di mana insan telanjang itu kedapatan mati. Manajer kelihatan gugup, waktu ia mengantarkan kami menuju ke kamar itu. Tetapi Pak Gories sangat tenang dan gagah. Semua dilakukan dengan tanpa ribut-ribut, supaya tidak heboh di kalangan tamu hotel ..."

"Lalu?", seru si ayah. "Yah, Pak Gories pun masuk ke kamar itu dengan tanpa mengeluarkan bunyi. Saya dan manajer hotel bersijingkat mengikuti beliau. Di dalam kamar itu, benar juga seperti yang dilaporkan: di tempat tidur terbaring tubuh seorang pria bule dan tergetelak di sebelah tubuh seorang perempuan bule, telanjang ... tapi ada yang aneh dan mencurigakan ..."

Eddy berhenti sebentar di sini, mengambil gelas untuk minum. Bapaknya menunggu tegang.

"Apa yang aneh dan mencurigakan?".

Eddy meneruskan ceritanya. "Yang aneh dan mencurigakan ialah bahwa kemaluan laki-laki itu ternyata masih berdiri tegak".

"Waduh! Apa yang terjadi?", tanya si ayah.

"Mula-mula saya tidak tahu, pak. Tapi kemudian Pak Gories dengan tenang memukulkan keras-keras tongkat komandonya ke ujung kemaluan itu, dan ..."

"Dan apa, Nak?"

"Terdengar teriak keras. Laki-laki bule itu berteriak. Ia bangkit. Juga tubuh perempuan itu tiba-tiba berdiri. Kemudian baru kami tahu bahwa rupanya kami memasuki kamar yang salah."

Back.jpg (8147 bytes)


Kiamat

Perdana Menteri Malaysia, Presiden RRC dan Presiden Indonesia dipanggil Tuhan sebentar, untuk diberi info penting. Mereka bergegas-gegas datang dan Tuhan mengatakan, bahwa dunia akan kiamat pada hari Jum’at yang akan datang. Sebab itu, diminta agar ketiga kepala negara itu memberitahu kepada rakyat mereka masing-masing supaya siap. Caranya terserah.

Perdana Menteri Malaysia pulang ke Kuala Lumpur berpidato di depan I: "Encik-encik dan puan-puan. Saya datang untuk membawa dua buah khabar atau berita. Yang satu khabar buruk, yang kedua khabar baik. Khabar yang buruk adalah bahwasanya hari akhir zaman akan tiba Jum’at pekan depan. Berita baik ialah bahwa Tuhan benar-benar ada dan Dia Maha Pengasih dan Penyayang."

Presiden RRC balik ke Beijing dan langsung ke TVRC: "Kawan-kawan Rakyat, datang dengan dua berita. Kedua-duanya berita buruk. Yang pertama, kiamat akan datang minggu depan. Berita buruk kedua: Tuhan ternyata ada".

Presiden Indonesia kembali ke Jakarta dan memanggil awak TVRI untuk merekam pidato ini: "Assalamu’alaikum warrahmatullohi wabarokatuh. Sudara-sudara, Saya selaku Mandataris daripada rakyat daripada Indonesia diberi tangggung jawab untuk memberiken khabar kepada sudara-sudara. Ada dua kabar, dan Alhamdullilah kedua-duanya khabar yang baik. Khabar baik yang pertama ialah bahwa Allah ternyata memang ada, menjaga keamanan dan ketertiban daripada semesta. Khabar baik yang ke dua ialah bahwa mulai Jum’at minggu depan, tidak akan ada lagi orang miskin di Indonesia".

Back.jpg (8147 bytes)


Ancaman Khas ABRI

Seorang prajurit ABRI terbunuh dalam sebuah kontak senjata di pinggiran Los Palos di Timor Timur. Nyawanya melayang, menuju ke pintu surga. Di pintu surga tampak Santo Petrus sedang menjaga pintu masuk.

"Aku anggota ABRI," ujarnya kepada Petrus.

"Ya," kata Santo Petrus, "Anda tak boleh masuk, kami tak ingin ada keributan di sini seperti yang terjadi di umum."

"Siapa yang mau masuk? Subversi ya!," hardik anggota ABRI itu. "Kuberi waktu lima menit untuk segera mengosongkan tempat ini."

Back.jpg (8147 bytes)


Dibyo Jaga Traffic Light

Suatu malam Dibyo ketika masih di Akademi Kepolisian di Candi, di pinggiran Semarang, mendapat tugas praktek lapangan untuk pertama kalinya diantar seorang sersan pelatih memasuki kota Semarang. Mereka sampai di sebelah tempat dekat perempatan jalan.

"Nah, kau lihat lampu merah itu? Kau bertugas di sana," ujar sang sersan sambil menunjuk Trafic Light yang sedang menyala merah di perempatan jalan.

Semalaman taruna Dibyo tidak pulang-pulang. Sehari kemudian ia muncul dan langsung menghadap sang sersan pelatih.

"Ke mana saja engkau?" hardik sang sersan.

"Siap! Ke Solo, lalu balik kembali," jawab Dibyo tenang tetapi tegas, " ternyata lampu merah itu lampu belakang sebuah truck. Laporan selesai!"

Back.jpg (8147 bytes)


Si Dia Ogah

Kejadiannya di salah sebuah sekolah di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan: Lisa, yang anggun dan cantik, keluar dari halaman sekolah. Berjalan kaki. Tidak lama kemudian sebuah mobil sedan warna merah tampak menyusul. Di belakang setir tampak seorang priya setengah baya, memakai safari abu-abu, dan memakai kacamata hitam.

"Naik sini, deh ... Kok jalan kaki, Dik," kepada Lisa dengan nada membujuk ...

Tapi Si Lisa seperti tak peduli, jalan terus, dan kemudian mencegat bis kota.

Esok harinya adegan yang sama terjadi, ketika sekolah usai. Si Lisa berjalan, dan mobil sedan merah yang rupanya sudah menunggu itu, menyusul. Kembali si pria setengah baya membuka kaca jendela, dan membujuk Lisa masuk.

"Naik sini, deh, ada minuman di mobil, lho ..."

Tapi kembali Lisa diam, dan jalan terus. Kejadian ini berulang sampai tiga kali. Karena ingin tahu, seorang temannya, mendatangi Lisa dan bertanya apakah Lisa kenal oom-oom berbaju safari dalam mobil sedan merah itu.

Jawab Lisa: "Tentu, dong. Itu ‘kan bokap gua."

"Lho diajak bokap naik mobil kok nggak mau? Emangnya lu marahan ama bokap lu?"

Lisa: "Ah, marahan sih nggak. Cuma gua ogah naik mobil Timor.

Back.jpg (8147 bytes)


Sirkus

Seorang penjinak singa yang gagah perkasa muncul dengan seekor singa yang besar. Pengunjung menyaksikannya dengan berdebar-debar. Ia bisa memerintahkan singa itu melakukan segala sesuatu. Yang ajaib ialah bahwa ia berani memukul kepala si hewan dengan martil kecil, sebagai isyarat perintah. Dan si singa tidak marah, sudah jinak barangkali. Benar-benar patuh: berdiri, menari, atau bahkan juga mencium pantat si penjinak.

Di adegan terakhir si penjinak sirkus tambah nekad. Ia memukul kepala singa dengan martil lagi dan si singa itu membuka rahangnya lebar-lebar. Puncaknya adalah ketika si penjinak singa membuka celananya lantas kemaluannya dimasukkan ke mulut binatang itu.

Penjinak memukul kepalanya sekali lagi. Apa yang terjadi? Si raja hutan lantas membuka moncongnya kembali, tapi lihatlah, hai, penonton: zakar si penjinak itu masih tetap utuh, sehat, dan segar.

Penontonpun bertepuk sorak, gembira tidak henti-hentinya, sampai Kris Biantoro, MC pertunjukan sirkus itu, muncul ke panggung dan berkata: "Bukan main! Hebat sekali! Saya tantang, para hadirin, siapa di antara para hadirin yang berani melakukan adegan terakhir itu sekarang juga? Siapa yang berani, kami beri tiket pesawat gratis dari Jakarta ke Las Vegas pulang-pergi.

Penonton senyap beberapa menit. Tiba-tiba terdengar suara dari hadirin. Yang muncul Habibie. Ia naik pentas dan berkata lantang: "Saya berani melakukannya! Tapi dengan syarat!".

Kris Biantoro kaget: "Benar nih? Apa syaratnya?"

Habibie: "Syaratnya: kepala saya ndak usah dipukul martil setiap kali, dan singanya disingkirkan dulu."

Back.jpg (8147 bytes)


Rahasia Tommy Menang Balapan

Seorang wartawan yang penasaran, menyelidiki sebab-musabab mengapa Tommy akhir-akhir ini selalu menang dalam setiap perlombaan balap mobil atau relly mobil di Indonesia. Padahal kemampuannya sedang-sedang saja.

Ternyata di dekat spedometer mobil balap milik para pesaingnya, seperti Tinton Soeprapto, Helmy Sungkar, Chandra Alim dan Richard Gelael tertempel secarik kertas dengan tulisan "Jangan coba-coba melewati gue kalau lu masih berharap dapat proyek ... Tertanda, Tommy."

Back.jpg (8147 bytes)


Tuhan pun Menangis

Pemimpin Filipina, Fidel Ramos, menghadap Tuhan, "Tuhan, aku telah memerintah Filipina lima tahun, berapa lama lagi baru rakyatku berbahagia?" "Tiga puluh tahun lagi," kata Tuhan.

Ramos menangis, dan berlalu.

Ganti pemimpin Kamboja yang baru mengkudeta Ranaridth, Hun Sen, menghadap Tuhan dan memohon, "Tuhan, aku baru memerintah Kamboja satu tahun, berapa lama lagi rakyatku baru bisa berbahagia?" "Lima puluh tahun lagi," ujar Tuhan.

Hun Sen menangis, dan berlalu.

Gantian Soeharto menghadap Tuhan, "Tuhan aku telah memerintah negeriku tiga puluh tahun lamanya. Berapa lama lagikah rakyatku betul-betul bisa berbahagia dan hidup dalam sebuah masyarakat yang adil makmur berdasarkan daripada Pancasila?"

Tuhan pun menangis, dan berlalu.

Back.jpg (8147 bytes)


Prabowo Jadi Intel

Tiga orang prajurit muda melamar untuk jadi intel BIA. Mereka bergiliran menjalani ujian lisan. Karena untuk jadi intel di Indonesia tidak diperlukan kecerdasan tinggi, pertanyaannya pun sederhana, tidak panjang lebar, menyangkut pengetahuan umum yang dasar. Tapi karena si penguji kebetulan orang Jawa yang doyan wayang, soal-soal hari itu berkenaan dengan cerita wayang saja.

Giliran pertama, Abu, bekas anggota KNPI, berasal dari Madura, masuk. Si penguji bertanya: "Siapa yang menculik Sinta?".

Jawab Abu: "Rahwana". Abu lulus, dan diterima jadi intel.

Giliran ke dua Bustanul, bekas anggota FKPPI, berasal dari Sawahlunto. Si penguji bertanya: "Siapa adik Rama yang mengikutinya hidup di hutan?".

Bustanul berpikir sejenak dan dalam hati mengutuk pertanyaan yang Jawa-sentris ini. Tapi ia bisa menjawab: "Laksmana". Bustanul pun lulus, dan diterima jadi intel.

Giliran ke tiga Prabowo, bekas anggota Pemuda Pancasila, berasal entah dari mana. Si penguji bertanya: "Siapa yang bertanding dan akhirnya membunuh Rahwana?".

Prabowo terdiam, tidak menjawab, meskipun senyum terus. Sampai 10 menit. Akhirnya si penguji kehilangan kesabaran dan berkata: "Kamu boleh pulang sekarang, dan besok datang lagi dengan membawa jawabanmul"

Prabowo pun keluar, dengan senyum terus. Di rumah dia ditanya oleh bapaknya, bagaimana hasil ujiannya jadi intel, kok senyum-senyum terus. Jawab Prabowo: "Bagus, Pak. Malah saya sudah dapat tugas untuk menyelidiki sebuah kasus perkelahian’’.

Back.jpg (8147 bytes)


Ibu Tien dan Lady Di

Para selebritis terkenal yang mendengar meninggalnya Lady Di akibat kecelakaan di Paris telah menunggu kehadiran mantan isteri Pangeran Charles tersebut di alam baka. Mereka di antaranya Evita Peron dan Grace Kelly dari Monaco.

Hampir semua selebritis menyatakan keprihatinannya atas peristiwa yang dialami Lady Di. Mereka semua memuji, menyatakan respek, dan menaruh rasa hormat kepada Lady Di atas dedikasinya untuk kemanusiaan selama hidupnya di dunia. Sebagian memuji kecantikan Lady Di dan berebut mencium tangan dan pipi Lady Di yang halus bak kain sutera.

Sementara itu dari neraka Tien Soeharto, istri Mao Jiang Jing dan dan Bom seks Marilyn Monroe menatap adegan itu dari kejauhan. Tapi hanya Ibu Tien yang terlihat uring-uringan dan bersungut-sungut.

Jiang Jing yang tak tahan melihat Tien bersungut-sungut lalu bertanya, "Ada apa? Bukankah ia seorang wanita yang memang pantas untuk dikagumi dan dihormati?" tanya JiangJing.

"Betul. Tapi ini pasti gara-gara kebodohan suami saya," jawab Tien.

Jawaban itu tentu saja membuat kening Jiang Jing berkerenyit. Marilyn yang menguping percakapan mereka menjadi keheranan tidak mengerti.

"Lho apa hubungannya kemauan Lady Di dengan suami Anda, Presiden Soeharto," tanya Marilyn.

Sewaktu saya mati selama seminggu terus menerus media massa, televisi dan media cetak di Indonesia menceritakan segala kisah yang menyangkut kehidupan dan kematian saya. Sekarang seluruh stasiun televisi dan media cetak di Indonesia hampir setiap hari dipenuhi dengan berita dan kisah tentang Lady Di. Itu pun masih banyak orang yang menyangka potret saya adalah nyonya Meneer," kata Ibu Tien sengit.

"Nah, lalu hubungannya dengan suami Anda?" tanya Evita.

"Jelas ada. Seharusnya si tua itu memerintahkan Hartono untuk melarang media massa di Indonesia mengekspos kematian Lady Di melebihi apa yang dulu dilakukan terhadap saya," ucap Tien.

Back.jpg (8147 bytes)


Beli Televisi Minus Harmoko

Dua tahun lalu penjualan pesawat televisi di kawasan Maluku dan Irian menurun drastis. Pengamatan empirik ini membuat sekelompok mahasiswa Fakultas Ekonomi suatu perguruan tinggi di Maluku melakukan survey untuk mengetahui sebab menurunnya penjualan pesawat televisi di Maluku dan Irian.

Hasilnya, para konsumen membatalkan membeli pesawat televisi karena mereka selalu menanyakan kepada si pemilik toko, ‘‘Apakah ada pesawat televisi yang tidak ada siaran pidatonya Harmoko?"

Back.jpg (8147 bytes)


Gatotkaca Memang Hebat

Gara-gara kerap jatuh, pesawat CN-235 buatan IPTN tak laku dijual. Untuk mengatasi hal ini kepala bagian pemasaran IPTN mengusulkan kepada pimpinannya, Habibie sebuah strategi baru. Selain mengubah mesinnya menjadi serba otomatis, Habibie diminta agar merekam suaranya untuk kemudian disiarkan di setiap pesawat buatan IPTN, CN-250.

"Agar penumpang merasa dihormati dan diperhatikan oleh Pak Menteri," ujar staf pemasaran. Habibie pun setuju.

Alhasil, dalam seluruh penerbangan pesawat N250 terdengar suara Habibie melalui interkom, "Para penumpang yang saya hormati selamat datang di pesawat terbang buatan anak negeri sendiri. Pesawat ini sepenuhnya otomatis. Mesin yang digunakan pesawat ini merupakan mesin pertama di dunia dan dibuat oleh para insinyur aeronautika IPTN."

Penumpang bertepuk tangan dan pada tersenyum. Mereka gembira dan merasa dihormati dengan menumpang CN-250.

Tetapi senyum penumpang tak berlangsung lama. Selang kemudian terdengar lagi suara, "Kita akan terbang pada ketinggian 10 ribu meter di atas permukaan laut. Penerbangan bebas rokok ini akan mempunyai kecepatan 5 ribu kilometer per jam. Pesawat ini tidak mempunyai pilot dan tidak ada pramugari. Seluruhnya dikontrol secara elektronis, fly by wire. Semua instrumen bekerja normal ... bekerja normal ... bekerja normal ... bekerja normal.

Back.jpg (8147 bytes)


Syarwan tak Butuh Otak

Ketika masih kolonel, Syarwan setiap hari bermimpi bisa segera jadi jendral. Karena terus memikirkan kariernya agar bisa cepat melonjak, Kolonel Syarwan akirnya menderita tumor otak.

Terpaksa sebuah operasi dilakukan. Syarwan diminta agar tetap diopname di rumah sakit sambil menunggu tumor otaknya diangkat. Sementara itu semua informasi yang masuk ke Syarwan disaring agar penyakitnya tak bertambah parah.

Banyak diantara bawahan Syarwan membesuk khususnya setelah bekas operasi di kepala sang kolonel agak sembuh.

"Pak, ada kabar gembira yang belum saya sampaikan kepada Bapak, soalnya selama ini ‘kan Bapak sakit," ujar seorang bawahan memulai percakapan dengan Syarwan yang sedang berbaring di ranjang.

"Berita apa itu?" tanya Syarwan.

"Bapak sekarang sudah diangkat jadi jendral!" jawab sang bawahan.

Sementara itu dokter yang mengoperasi tumor otak Syarwan datang. Ia kelihatan sangat panik. "Aduh. Gimana ya Pak? Otak Bapak yang saya operasi lupa saya masukkan kembali ke dalam kepala Bapak ...," ujar si dokter setengah melapor.

"Ah, nggak apa-apa Dok. Tak usah repot-repot. Saya sekarang setelah jadi jendral, jadi nggak perlu pakai otak lagi ..."

Back.jpg (8147 bytes)


Ibu Tien dan Ibu Teresa

Rasul Petrus, Rasul Paulus, dan para malaikat penghuni sorga telah menanti kedatangan roh biarawati ibu Teresa di pintu sorga. Rasul Petrus dan seluruh penghuni sorga mengenakan pakaian terbaik milik masing-masing yang berkilauan cahaya emas. Persiapan tersebut tentu saja membangkitkan keinginan buat para penghuni neraka. Mereka diantara selebritis tersebut antara lain artis Marilyn Monroe, mata-mata Matahari, dan tak ketinggalan Ibu Tien.

Begitu roh Ibu Teresa tiba, segera saja Rasul Petrus menyambutnya, bahkan tiga orang malaikat menghamparkan permadani untuk jalan yang akan dilalui Ibu Teresa.

‘‘Ibu, seluruh kerajaan sorga berterima kasih atas karya kemanusiaan anda untuk orang-orang miskin dan terlantar, serta anak-anak yatim piatu," demikian Rasul Petrus dalam pidato penyambutannya.

Tiba-tiba Ibu Tien mengangkat tangan, ditujukan kepada Rasul Petrus. Rasul Petrus yang melihat itu dengan bijaksana bertanya: "Ada apa kiranya anda mengangkat tangan, adakah yang ingin anda sampaikan kepada Ibu Teresa?"

"Maaf Yang Mulia. Mengapa Ibu Teresa langsung disilakan menuju Kerajaan Sorga? Jika ia berbuat amal dan kebaikan untuk sesama manusia, bukankah saya dan keluarga saya juga melakukan hal yang sama? Kami sekeluarga mengeluarkan uang sekitar Rp 20 juta per bulan untuk menyantuni dan mensubsidi orang-orang yang kurang manpu," kata Ibu Tien bersemangat.

Rasul Petrus sambil melengos dan membalikkan badannya menjawab ringan, "Ssst, tapi jangan dilupakan keluarga anda juga mengeruk milyaran rupiah tiap bulan [*] dari rakyat Indonesia."

[*] Majalah Forbes, Edisi Agustus 1997 dan Suara Independent No.10, Edisi September 1997 mengungkap bahwa kekayaan keluarga Presiden Soeharto sekarang ini telah mencapai Rp 45 trilyun. Bandingkan dengan masa kekuasaannya yang 30 tahun, artinya per tahun keluarga tersebut memperoleh kekayaan sebesar kurang lebih Rp 1,5 trilyun.

Back.jpg (8147 bytes)


Kampanye

Ini cerita beberapa bulan yang lalu, ketika sedang rame-ramenya kampanye Pemilu. Tutut sedang giat berkampanye di sebuah kota kecil di Irian Jaya. Ribuan rakyat dikumpulkan oleh Pemda buat menyambut beliau di lapangan kota W. Bendeta dan umbul-umbul dipasang. Meriah. Dan rupanya suatu kebiasaan di situ bahwa rakyat dengan gegap gempita menyambut setiap ucapan para pembesar.

Tutut berpidato: "Saudara-saudara, dalam rangka pembangunan nasional, pemerintah akan meningkatkan usaha untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur!".

Rakyat setempat: "Wiloo-wiloo, wiloo-wiloo!".

Tutut meneruskan: "Jangan sampai saudara-saudara mau dihasut oleh gerakan separatis yang ingin mengacaukan stabilitas!".

Rakyat setempat: "Wiloo-wiloo!".

Tutut lagi: "Hidup Soeharto! ".

Rakyat setempat: "Wiloo-wiloo!".

Tutut: "Hidup Soehartono!"

Rakyat setempat: "Wiloo-wiloo!".

Pidato selesai Tutut turun mimbar dan langsung diantar berkeliling melihat-lihat desa-desa di dekat sini, untuk memberi kesan baik, ia tidak hanya ingin mengunjungi hal-hal yang sudah ditata. Suatu kali ia nekad masuk ke sebuah rumah dan langsung ke halaman belakang untuk melihat bagaimana babi-babi dikandangkan di tempat itu. Ini membuat cemas Pak Bupati, orang asli, yang segera mencoba memberi tahu Tutut: "Maaf, Ibu, jangan masuk ke situ. Nanti kalau Ibu terinjak wiloo-wiloo! Wiloo-wiloo babi itu ada bau sekali, Ibu!"

Back.jpg (8147 bytes)


Mumi pun Kenal Soeharto

Tim arkeologi dari Amerika, Inggris dan Indonesia tersesat di lorong di bawah sebuah piramida kuno di Mesir. Tiba-tiba sebuah mumi berusia ribuan tahun bangkit dan mendekati ketiga antropolog yang kontan jadi pucat pasi.

"Hai, manusia. Siapa kalian dan dan mana asalmu?" ujar mumi dengan suara menggelegar.

"Nama saya Michael, Tuan Mumi. Saya dari Amerika Serikat sebuah negara adidaya," ujar sang arkeolog Amerika dengan membusungkan dadanya.

"Hah... Amerika? Aku tak kenal negerimu. Kalau kamu dari mana?," tanya mumi kepada arkeolog berkulit putih satunya.

"Saya dari Inggris, Tuan Mumi. Nama saya Charles," jawab arkeolog asal Inggris.

"Inggris? Di mana negeri itu?,’ tanya mumi.

"Inggris adalah sebuah negeri yang memiliki jajahan paling banyak di dunia," ujar si Inggris menyombongkan diri.

"Maaf, aku tak kenal bangsamu! Hei, kamu orang pendek dan berkulit sawo matang! Dari mana asalmu?" tanya mumi.

"Tuan Mumi, nama saya Sugeng asal Indonesia," jawab sang arkeolog Indonesia.

"Haaa..?! Kamu dari Indonesia?" tanya mumi sambil memerintahkan agar arkeolog asal Indonesia lebih mendekat padanya, "Omong-omong Soeharto masih jadi Raja Jawa ya?!"

Back.jpg (8147 bytes)


Kisah Harmoko Waktu Muda

Waktu Harmoko muda dan cari pekerjaan ke Jakarta, ia mengikut tes untuk jadi wartawan "Merdeka". Ia dipanggil masuk kedalam, orang yang mengetestnya adalah Rosihan, temannya. Harmoko lega. Jam itu adalah jam tes kemampuan berhitung. Karena ini test psikologi, pertanyaannya agak aneh.

Pertanyaan pertama, "Apa yang terbuat dari karet, berbentuk seperti bakiak, dan dipakai di kaki kiri ketika orang di kamar mandi?,’

Harmoko bingung. Melihat itu Rosihan membisikinya, "Sebuah sandal jepit."

Pertanyaan ke dua, "Apa yang terbuat dari karet, berbentuk seperti bakiak, dan dipakai di kaki kiri serta di kaki kanan ketika orang di kamar mandi?"

Harmoko kembali bingung. Rosihan kembali membisikinya, "Sepasang sandal jepit."

Test kemampuan berhitung hari itu selesai. Besoknya Harmoko disuruh datang lagi. Ia masuk ke ruang ujian, tapi kali ini kecewa, karena yang menunggui test hari ini bukan Rosihan lagi, melainkan seseorang yang ia tidak kenal. Dengan agak dag-dig-dug, Harmoko duduk. Hari ini test pengetahuan umum.

Pertanyaan: Apa yang terletak di Mekah yang menjadi tanda arah bagi ummat Islam waktu bersembahyang?"

Kali ini Flarmoko tersenyum. Ia sudah tahu jawabnya, "Tiga buah sandal jepit."

Back.jpg (8147 bytes)


Daftar Terkaya

Ketika majalah Forbes memuat daftar orang terkaya sedunia dan Soeharto termasuk di dalamnya, seorang Indonesia pengakses internet heran. Ia bingung ketika melihat daftar dalam kategori ‘‘Kings, Queens & Tyrants". Si netter bingung, "Lho Soeharto termasuk yang mana: Raja, Ratu atau..."

Temannya menyergah, "ketiga-tiganya."

Back.jpg (8147 bytes)


Jamuan Makan Malam Habibie

Pada suatu malam, Habibie menjamu sejumlah tamu pengusaha Jerman di Hotel Grand Hyatt. Ia didampingi oleh Wardiman, Meneer Dhanu dan para bawahannya yang setia. Dalam pakaian resmi yang anggun, para tamu dan tuan rumah duduk, menyantap makanan, sementara musik lembut dimainkan oleh sebuah orkes kecil sebagai latar belakang.

Tapi malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Mungkin karena AC yang dingin atau karena hidangan terlalu banyak memakai bawang, perut Habibie mendadak bergejolak. Dan dari dalam perut itulah langsung keluar satu letusan hawa busuk dengan suara yang amat sangat keras: "Brroootttll".

Habibie malu sekali. Tetapi ia segera bisa menyelamatkan keadaan. Ia pun memandang ke arah Wardiman, dan berkata agak keras, "Wardiman, stop itu!"

Wardiman berdiri. "Siap, Pak, tapi arahnya tadi ke mana?"

Back.jpg (8147 bytes)


Antre Cengkeh

Kehadiran BPPC telah membalik gaya hidup petani cengkeh di Sulawesi Utara. Kalau dulu para pengusaha yang mendatangi mereka, kini para petani harus antre menyetor cengkeh kepada BPPC pada musim panen. Begitu panjangnya antrean, membuat para petani yang sejak pagi hendak menyetor cengkeh jadi blingsatan. "Ini semua gara-gara Tommy," ujar seorang petani. "Ya, lihat saja sudah dari pagi kita antre, tapi tidak beranjak maju," sahut yang lain. "Kalau, gitu, kita bunuh saja Tommy!" kata yang lain. "Yal Kita bunuh dia!" ujar yang lain lagi. "Bunuh Tommy! Bunuh Tommy!" seru para petani ramai-ramai.

Akhirnya dari musyawarah dadakan itu. salah seorang lantas diutus terbang ke Jakarta dengan mosi: membunuh Tommy. Tiga hari lewat sudah. Utusan itu pulang dan segera menjumpai rekan-tekannya, yang ternyata masih berada di tempatnya mengantre. Dengan antusias rekan-rekan petani cengkeh itu menanyakan hasilnya. "Gimana? Sudah dibunuh?"

Dengan lesu, si utusan menjawab: "Percuma antrean orang yang mau membunuh Tommy ternyata lebih panjang dari antrean ini."

Back.jpg (8147 bytes)


Kisah Suster Timtim

Ini kejadian di sebuah biara di Timor Timur. Suster Kepala sangat cemas dengan situasi keamanan di daerah itu. Pada suatu saat ia memanggil diam-diam salah seorang biarawatinya yang cantik, Suster Maria.

Ia bertanya, berbisik, "Misalkan, Suster Mari berjalan-jalan di pinggir kota Dilli malam-malam. Suster ketemu dengan seorang tentara yang punya niat jahat. Apa yang Suster akan lakukan dalam situasi itu."

"Saya akan mengangkat rok saya," ujar Suster Maria.

Suster Kepala (kaget), "Lalu apa yang akan kamu lakukan setelah itu?"

"Saya akan minta laki-laki itu membuka celananya juga celana dalamnya," sambung Suster Maria.

Suster Kepala (tambah kaget), "Hah! Lalu apa?"

"Saya akan lari dengan rok diangkat, sedang di akan tidak bisa lari cepat dengan celana lepas semua."

Back.jpg (8147 bytes)


Kesempurnaan Pancasila

Dalam acara pembekalan bagi para calon anggota DPR 1998-2003, Harmoko melontarkan pertanyaan, "Mengapa Pancasila lebih sempurna daripada semua sistem lain yang ada di dunia?"

"Karena Pancasila berhasil mengatasi semua masalah yang tidak terdapat pada sistem lainnya," jawab seorang caleg yang diam-diam bersimpati pada Mega Bintang. 

Back.jpg (8147 bytes)


Jangan Minta yang Satu Itu

Suatu malam, lewat mimpi Malaikat Jibril mendatangi Soeharto. Jibril mengatakan pada Harto, bahwa waktunya sudah tiba untuk segera meninggalkan dunia.

"Kamu sudah terlalu lama berkuasa," ujar Jibril.

Soeharto pun minta waktu untuk mempersiapkan diri. Ia ingin membagikan warisannya yang sangat banyak kepada anak-anaknya secara adil.

Keesokan harinya ia mengumpulkan seluruh anak cucunya. Turut menyaksikan adalah sejumlah pejabat tinggi negara yang dekat dengan kalangan keluarga.

"Begini, saya akan segera mati. Saya ingin mewariskan apa yang saya miliki kepada kalian semua. Tolong sebutkan satu-persatu permintaan kalian," ujar Soeharto.

"Ayahanda, saya minta semua jalan tol, stasiun televisi, vaksin polio dan...," pinta Tutut.

"Ayahanda, saya minta tempat judi terbesar di dunia dan semua tambang minyak," pinta anak ke dua, Sigit.

"Ayahanda, saya minta stasiun televisi, monopoli plastik, ponsel, satelit, dan ...," ucap Bambang.

"Ayahanda, saya minta jembatan, bank, reksadana, galeri, dan...," ucap Titiek.

"Ayahanda, permintaan saya tak banyak. Saya cuma minta hak monopoli cengkeh, mobil nasional, supermarket, sirkuit balap, tanker, pesawat terbang, LNG, dan ... dan ...," pinta Tommy yang merupakan anak kesayangan.

Harto meminta agar para pejabat tinggi mencatat semua permintaasn anak-anaknya secara rinci. Tapi rupanya belum semua anak Soeharto menerima warisan. Si anak bungsu, Mamiek, belum mengajukan permintaan apa pun. Sedari awal pertemuan ia tampak hanya menundukkan mukanya. Wajahnya memerah, malu-malu.

Soeharto yang tak tahan dan ingin mengetahui permintaan anak bungsu yang paling dicintai almarhumah istrinya itu lantas bertanya, "Anakku yang paling ayu, ayo, jangan sungkan-sungkan. Semua kakakmu sudah mengajukan permintaan. Permintaanmu sendiri apa?"

Mamiek tak menjawab. Sambil menundukkan wajahnya, ia hanya menggigit-gigit kukunya. Dan ketika didesak, Mamiek hanya bilang, "Ah...malu, Pak."

"Oalah Nduk, sebutkan semua permintaanmu niscaya semuanya aku kabulkan. Tapi jangan minta yang satu itu. Yang itu aku sudah tak punya," ujar Soeharto.

Back.jpg (8147 bytes)


Tak Bisa Membedakan

Seekor babi hutan dari pedalaman Timika di Irian Jaya lari ketakutan menyeberangi perbatasan Indonesia-Papua Nugini. Ia merasa diburu-buru tentara Indonesia. Ia baru berhenti ketika ada seekor babi hutan Papua Nugini menyatakan bahwa ia sudah berada dalam wilayah Papua Nugini.

"Mengapa Anda berlari?,’ tanya babi Papua Nugini.

"Terus terang saya khawatir pada tentara Indonesia. Mereka mengebiri semua laki-laki di sana," ujar babi Indonesia.

"Tapi anda ‘kan bukan manusia. Anda ‘kan cuma seekor babi hutan?,’

"Justru itulah. Mereka mengebiri dulu baru bertanya kemudian," ujar babi Indonesia.

Back.jpg (8147 bytes)


Neraka (1)

Setelah mengalahkan rekor berkuasa Presiden Seumur Hidup Soekarno, akhirnya Soeharto pun tiba pada ajalnya. Mengingat perbuatan Soeharto semasa hidupnya akhirnya diputuskan bahwa dia harus masuk neraka. Namun mengingat sejumlah kebaikan dan hal meringankan Soeharto selama hidupnya, seperti membunuhi musuhnya dengan tersenyum, memiskinkan rakyat dan negerinya dengan dalih pembangunan hingga aksi konkret memimpin gerakan negara miskin, penjaga neraka menyilakan Soeharto memilih sendiri jenis siksaan yang harus dijalaninya.

Oleh penjaga neraka ia diajak masuk sebuah bilik. Di tempat itu para penyiksa tampak sedang mengasah pedang dan membakar tusukan besi hingga membara. Soeharto yang bergidik mellihat orang ditusuki dan disundut besi panas menyatakan, ‘‘Saya mau lihat tempat yang lain."

Soeharto lantas masuk ke sebuah bangsal luas. Tampak sejumlah penyiksa menancapkan kait pancing ke sejumlah bagian tubuh seseorang. Ada yang di siku, ada yang di perut, ada yang didada, pantat, paha dan sebagainya. Mata pancing itu kemudian digunakan untuk mengerakkan tubuh para pendosa di bangsal itu untuk digantung selama berjam-jam. Bila otot yang jadi tempat kait jebol mereka akan jatuh ke tanah. Para penjaga akan kembali menancapi tubuh-tubuh itu untuk kemudian digantung kembali. Begitu seterusnya.

Rupanya Soeharto tak tahan dengan pemandangan itu. "Saya ingin melihat yang lain"’ ujarnya.

Begitulah. Dari bilik ke bilik, bangsal ke bangsal, Soeharto terus memilih. Hampir semua wilayah neraka telah dijelajahinyn. Tiba-tiba ia berhenti di sebuah empang yang dipenuhi dengan berbagai jenis tinja, mulai dari tinja manusia hingga kotoran babi. Rupanya Soeharto tertarik menyaksikan para terhukum yang hanya berendam sebatas bahu.

"Ah, ini sih enteng. Kalau cuma begiru saja, gue juga betah disiksa selamanya," ucap Soaharto.

Maka ia lalu digiring nyebur ke empang dan ikut berendam sebatas bahu."

Baru semenit Soharto berendam, tiba-tiba terdengar suara yang memekakkan telinga dan disambung teriakan penjaga neraka yang berdiri di pinggir empang, "Yaa..., waktu istirahat sudah habis. Sekarang saatnnya untuk kembali menyelam!"

Back.jpg (8147 bytes)


Neraka (2)

Di neraka ada paya-paya berisi kotoran manusia yang amat luas. Para pembohong, penjahat, pemerkosa dan lainnya dihukum di situ. Kian berat tingkat kejahatan yang pernah dilakukan seseorang selama hidupnya kian dalam ia terbenam dalam paya-paya itu.

Di sebuah kerumunan di paya-paya berkumpulah sejumlah orang ternama. Ada Hitler, Mobutu Sese Seko, Igor Mengele, Idi Amin, Pol Pot, Marcos dan Soeharto. Hampir semuanya terbenam sebatas mulut dalam paya-paya menjijikkan itu. Mereka kepayahan di sengat panas dan bau yang bikin perut mual. Hanya Soeharto yang berdiri di atas pinggangnya, sambil tersenyum-senyum.

Semuanya memandang Soeharto dengan cemburu. Rupanya akhirnya mereka tak tahan juga melihat Soeharto yang nasibnya lebih baik.

"Engkau pemusnah manusia terbesar setelah Hitler masa hukumanmu ringan. Aku cuma membunuh setengah juta orang Kamboja dibenamkan hingga mulutku susah bernafas. Engkau yang memusnahkan dua juta rakyatmu sendiri pada 1965 cuma dihukum sepinggang," teriak Pol Pot.

"Iya, korupsimu kan lebih banyak dari yang aku lakukan," tambah Marcos.

"Kamu menindas rakyatmu lebih lama ketimbang yang aku lakukan selagi aku hidup," sahut Mobutu.

Rupanya perselisihan di antara penghuni neraka itu disaksikan oleh penjaga neraka dari kejauhan. "Sudahlah kalian sesama penjahat jangan ribut. Apa kalian tak tahu kalau Soeharto yang kalian cemburui itu sebetulnya berdiri di atas pundak istrinya, Bu Tien."

Back.jpg (8147 bytes)


Bordil

Di sebuah sekolah SD di pinggiran sebelah umur kota Dili, Timor Timur, seorang guru dari Jawa menanyai murid-muridnya tentang profesi orang tuanya masmg-masing.

Seorang murid Kelas V bernama Caspar yang mengidolakan Xanana Gusmao sebagai pahlawan mendapat gilirannya. Ia pun menjawab, "Ayah saya jadi petugas rumah bordil."

Tentu saja si Guru terkejut mendengarnya. Siangnya ia segera mengirimkan sebuah surat untuk ayah Caspar. Guru merninta ayah Caspar datang menemuinya.

Esoknya muncul seorang anggota Babinsa lengkap dengan seragam hijaunya dorengnya. Lagi-lagi sang Guru terkejut dan tergagap.

"Saya sekarang benar-benar bingung. Bukankah Bapak yang bertugas di Kodim Dili? Kenapa di kelas anak Bapak mengatakan bahwa Bapak adalah petugas rumah bordil. Dari penjelasan anak Bapak, tadinya saya sendiri mengira Bapak bekerja di Aspal Goreng (lokalisasi di pinggiran Dili -red.)!"

"Ah, maafkan dia. Dia masih kecil. Dia selalu begitu. Dia malu bapaknya jadi tentara Indonesia."

Back.jpg (8147 bytes)


Ah, Bukan Urusan Kita!

Menlu Ali Alatas melawat ke Jerman. PM Helmut Kohl menerimanya. Mereka berbincang ngalor-ngidul sampai pada persoalan upah buruh di negara masing-masing.

"Berapa penghasilan rata-rata buruh Jerman sekarang?" tanya Alatas.

"Antara 150 sampai 300 DM per minggu."

"Berapa besar kebutuhan hidup mereka per minggunya?"

"Itu bukan urusan kita. Jerman adalah negara F;ropa yang bebas. Bagaimana dengan Indonesia? Berapa penghasilan buruh per minggunya?’’

"Antara 10 ribu rupiah hirmgga 42 ribu rupiah per minggu."

"Lantas berapa besar kebutuhan hidup per minggunya?"

"Antara 25 ribu Rupiah hingga 90 ribu rupiah."

"Dari mana mereka nombok sisanya?"

"Ah, itu pun bukan urusan kita. Indonesia adalah negera yang bebas. Lagi pula Soeharto sudah menunjuk Abdul Latif untuk mengurusnya."

Back.jpg (8147 bytes)


Cinta Xanana

Di sebuah kelas di sekolah SMU di Baucau, Timor Timur sedang berlangsung pelajaran sejarah integrasi.

"Mengapa ada yang mencintai tokoh GPK macam Xanana Gusmao?"

"Karena ia telah berjuang untuk membebaskan kita."

"Mengapa ada yang benci pada Soeharto, yang sebenarnya telah banyak berjasa bagi Timor Timur?"

"Karena ia tak berjuang untuk membebaskan rakyatnya!"

Back.jpg (8147 bytes)


Aku Bersedia Menunggu

Tiga pria mengaku anggota OPM tertangkap Kopassus di Srui. Mereka dijatuhi hukuman mati. Sebelum dieksekusi, komandan regu tembak menanyakan keinginan terakhir mereka.

"Kalau aku mati, aku mohon agar jenasahku di bakar dan abunya ditaburkan di atas makam Tom Wanggai, Presiden Papua yang aku hormati," ujar Mirino.

"Jenasahku juga tolong dibakar dan abunya harap ditebarkan di atas makam Arnold Ap, antropolog besar dan tokoh yang memberi ilham bagi munculnya identitas Papua," ujar Morinus.

"Kalau kamu, apa keinginanmu?," tanya komandan regu pada Nicolaas.

"Sama seperti ke dua temanku. Setelah dibakar, abuku hendaknya ditaburkan di atas makam Soeharto," ujar Nicolaas.

"Lho, Soeharto kan belum mati?"

"Ya, aku bersedia menanti."

Back.jpg (8147 bytes)


Rahasia Sukses Atlet Irian

Di Indonesia, Irian Jaya dikenal sebagai pemasok utama para olahragawan. Dalam rangka persiapan Sea Games, Ketua Umum KONI Wismoyo mengadakan peninjauan lapangan ke sejumlah atlit yang sedang berlatih di Senayan. Wismoyo yang sudah lama tertarik kepada rahasia sukses atlit Irian segera meminta agar menghadapkan padanya seorang atlit dari Pulau Kepala Burung.

Rupanya seorang atlit serba bisa yang mantan pendukung OPM, Karel Rumaurir, sedang berlatih didekat rombongan KONI. Ia didekati seorang staf KONI dan diminta menghadap Wismoyo. Kepada Wismoyo, Karel diperkenalkan sebagai pemegang medali emas olahraga panahan, lempar lembing dan lari sprint.

"Apa benar kamu juara di bidang panahan, lempar embing dan lari cepat?" tanya Wismoyo

"Siap Pak. Benar!" sahut Karel dengan posisi tegak.

"Coba ceritakan rahasia suksesmu di tiga cabang olahraga itu, saya ingin tahu!"

"Siap Pak! Dulu saya dan kawan-kawan selalu berlatih memanah ABRI. Bila masih ada ABRI yang nekad maju, kami akan melempar lembing. Dan bila ada banyak ABRI yang nekad, kami akan lari cepat!"

Back.jpg (8147 bytes)


Sebuah Tebakan

Misalkan Soeharto, Feisal, Habibie dan Harmoko sedang duduk bersama-sama di dalam sebuah lubang perlindungan. Lantas sebuah pesawat pembom melintas di atasnya. Sebuah bom jatuh dan tepat meledak di lubang perlindungan itu.

Siapa yang selamat? Rakyat Indonesia!!!

Back.jpg (8147 bytes)


Kekhawatiran Haryono

Haryono Suyono adalah orang yang paling giat kampanye perlunya pembatasan kelahiran di Indonesia.

"Jika populasi penduduk Indonesia tetap meningkat, maka suatu saat semua orang terpaksa tidur berdiri. Itu artinya waktu kelahiran menjadi lebih cepat lagi," ujar Haryono pada seorang wartawan yang mewawancarainya .

Back.jpg (8147 bytes)


TV dan Menteri

Hanif, seorang mahasiswa dari Surabaya, suatu ketika masuk ke sebuah restoran di Madura (di Madura juga ada restoran, lho). Di ruangan restoran ida pesawat TV sedang dinyalakan, dan ada sejumlah orang menonton. Pukul 19:00 siaran "Siaran Berita TVRI" muncul.

Di layar TV tampil Harmoko dan Wardiman. Kontan Hanif berteriak, "Wah, kambing congek!"

Mendengar itu, tiba-tiba di antara orang Madura yang menonton berdiri, dan mendatangi Hanif. Mereka menatapnya mata Hanif dan berkata, "Kalo sampeyan omong seperti itu sekali lagi, saya akan pukul sampeyan!"

Si Hanif diam. Siaran berita TV jalan terus. Kini di layar tampak sejumlah anggota DPR Fraksi Karya yang sedang marah-marah karena terima cincin perpisahan yang kadar karat emas kurang. Melihat itu si Hanif tidak tahan, lalu teriak lagi, "Wah, kambing congek!!!"

Orang yang mendatangi tadi sekarang berdiri dan bersiap menampar wajah Si Hanif. Melihat itu, Si Hanif mencoba membela diri dan berkata, "Wah, sorry, saya nggak sadar bahwa ini sampeyan sangat setia pada Golkar..."

Orang-orang Madura yang ada di restoran itu bersama si pemilik restoran serentak berkata, "Bukan itu soalnya, Dik. Soalnya sampeyan irii sangat menghina kambing!"

Back.jpg (8147 bytes)


Meng-counter Isu HAM

Penindasan hak asasi manusia (HAM) di Indonesia telah menimbulkan sejumlah masalah pelik bagi pemerintah Indonesia. Hubungan diplomatik dan bantuan keuangan yang selalu dikaitkan dengan praktek HAM membuat wajah diplomasi Indonesia semakin babak belur. Untuk itu Pangab memerintahkan agar BIA, BAKIN dan Bakorstanas bekerjasama dengan Deppen menggelar serangkaian diskusi dengan tema "Dalam Pancasila Sudah Ada Nilai Penegakan HAM".

Sejumlah undangan, surat pemberitahuan dan konsep iklan dibuat. Sebuah buku program acara juga dicetak untuk melengkapi. Dalam program acara tertulis kata-kata: "Kebebasan Berpendapat. Kebebasan Pers. Wartawan Dilarang Masuk".

Back.jpg (8147 bytes)


Tiga Jendral Pikun

Usai acara HUT ABRI 5 Oktober 1997 lalu, Pak Domo mendatangi seniornya, Pak Nas dan Pak Harto untuk memberi ucapan selamat atas penganugerahan tanda pangkat jendral bintang lima kepada keduanya. Dari sekadar berbasa-basi, lantas berkembanglah pembicaraan mereka ke soal masa tua dan gejala kepikunan yang mereka alami.

"Meski saya sempat dikucilkan pemerintah, alhamdullilah, fisik saya relatif masih sehat kecuali prostat dan jantung yang agak terganggu. Cuma saja setiap kali membuka lemari es, saya lupa apakah saya ingin meletakkan atau mengambil sesuatu. Setiap bangun pagi saya juga bingung apakah ini jaman Orde Baru atau masih Orde Lama," ujar Nasution disambut tertawa berderai Pak Harto dan Pak Domo.

"Itu tak seberapa, Pak!" sambung Soedomo, "Setiap kali melihat perempuan, saya sering berpikir bahwa saya sedang berada di tangga sambil berpikir apakah saya ingin naik atau ingin turun."

"Untunglah," kata Soeharto, "aku belum mengalami hal-hal seperti itu dan aku siap dicalonkan jadi presiden lagi."

Soeharto lantas mengetuk-ngetukkan tongkat komando jendral bintang lima yang baru dipegangnya ke meja. "Oh," ucap Soeharto sambil bangkit dari tempat duduknya, "Rupanya ada tamu."

Back.jpg (8147 bytes)


Kongsi

Taipan Liem Sioe Liong diwawancarai sebuah stasiun televisi swasta terkemuka tentang kehebatan bisnisnya Pertanyaan pertama, kalau Indofood itu bagaimana ceritanya.

Oom Liem menjawab, "Itu bermula dari jaman perang dulu, waktu tentara-tentara kita kesulitan makanan dan dari sana saya punya gagasan bikin pabrik makanan yang murah meriah."

Si wartawan menegaskan "sahamnya siapa punya."

Oom Liem mengangguk-ngangguk, "Kebetulan saya punya semua."

Si wartawan meneruskan pertanyaan, "Kalau Indo cement?"

"Oh itu juga, sahamnya saya punya semua."

Masih belum puas di wartawan bertanya, "Bagaimana dengan Indomobil?"

"Saya punya semua."

Akhirnya, si wartawan bertanya, "Kalau Indonesia?"

Oom Liem dengan cepat menjawab, "Wah, kalau itu owe kongsi sama Pak Harto."

Back.jpg (8147 bytes)


Ramos dan Harto

Presiden Filipina Fidel Ramos lagi pusing. Soalnya niat untuk mengubah konstitusi, agar masa jabatan bisa diulang, diprotes sana-sini. Maka berkonsultasilah ia ke Jakarta. Tapi Soeharto cuma menjawab, "Itulah akibatnya kalau Anda baru memikirken sekarang. Kalau saya sih sudah sejak daripada hari pertama masuk tentara sudah berpikir bagaimana caranya untuk mengupayakan daripada melanggengkan kekuasaan."

Back.jpg (8147 bytes)


Ramos dan Moerdani

Fidel Ramos, yang puyeng akibat niatnya untuk jadi presiden, melalui revisi konstitusi ditolak banyak orang akhirnya menghubungi rekan lamanya, LB Moerdani.

"Dear Benny, Anda punya ideas?" tanya Ramos.

Moerdani menukas, "Seharusnya saya yang minta ,~zlsoi.r pada Anda, lwiclel. Bagaimana Anda dulu menyingkirkan Marcos, dengan memperalat seorang wanita bernama Cory, dengan mengatasnamakan People’s Power? Masalah Anda sekarang terlalu maju bagi saya ..."

Back.jpg (8147 bytes)


Pengabdian ala Abdul Gafur

Abdul Gafur adalah seorang penjilat Soeharto. Setiap menjelang pergantian kabinet dia selalu bikin buku tentang Soeharto, atau apapun yang ada hubungannya dengan Soeharto.

Seorang wartawan dengan penasaran mewawancarai Gafur. "Apakah Bung tak khawatir akan kehabisan cerita soal Soeharto? Buku apalagi yang masih bisa Bung hasilkan?"

Gafur menjawab enteng, "Ada rancangan buku: Soeharto, Kumpulan Obituari."

Si wartawan masih penasaran, "Apa Bung tak khawatir pada pasca-Soeharto nanti orang macam Bung itu akan dihabisi?"

"Oh, tidak. Saya kan bisa menulis buku berjudul "Potret Gelap Soeharto: Kesaksian Seseorang yang Tertipu Olehnya," jawab Gafur.

Back.jpg (8147 bytes)


Harmoko Bingung

Setelah tahu pasti bahwa dirinya bakal menjadi anggota MPR/DPR RI, Harmoko kebingungan. Pasalnya, dia harus memanggil Presiden Soeharto dengan sapaan "Saudara Presiden". Lebih sial lagi kalau dia menjadi Ketua DPR, artinya dia harus lebih sering memanggil dengan sapaan itu. Jelas sungguh sulit karena seumur-umur dia tidak pernah melakukannya.

"Bune, bagaimana ini yaa baiknya. Aku kan jadi pakewuh nanti," katanya pada sang istri.

"Aduh Pakne, aku juga bingung," jawab Yu Srie, "Lebih baik Pakne konsultasi saja dengan Bapak Presiden bagaimana sebaiknya."

Maka berangkatlah Harmoko ke Cendana. Setelah membungkuk dalam-dalam Harmoko menjelaskan masalah yang menjadi beban pikirannya itu.

Sebagai orangtua yang arif Soeharto lantas memberi jawaban yang menyejukkan, "Moko, kamu ndak usah bingung", kata Soeharto dengan senyumnya. ‘Kamu boleh saja menyebut daripada aku dengan sapaan "Saudara Presiden". Itu sudah seharusnya, dan itu konstitusional. Tapi supaya perasaanmu enak, sebelum kamu mengucapkan "Saudara Presiden" kamu lebih dulu mengucapkan "sesuai petunjuk Bapak Presiden", kan begitu?"

Back.jpg (8147 bytes)


Soeharto dan Si Susan

Beberapa-tahun lalu Ria Enes dan bonekanya, Suzan, diundang ke acara kenegaraan. Rupanya nama Ria Enes dan suara perutnya betul-betul menarik keingintahuan presiden. Tapi, rupanya itu bikin kapok Soeharto. Soalnya ketika Suzan ditanya, apa cita-citanya, jawabannya: "Ingin jadi Presiden."

Soeharto menggerutu, "Kurang ajar, subversif, sontoloyo. Boneka saja pingin menggantikan aku."

Back.jpg (8147 bytes)


Bahaya Komputer

Country Manager Intel Corp di Indonesia heran bukan kepalang. Maunya, atas nama niat baik dan tanggung jawab sosial, perusahaannya menawarkan komputer gratis pada beberapa LSM. Tapi semua LSM menolak sumbangan itu. Tahu punya tahu akhirnya sebuah LSM mengungkapkan alasannya, "Habis, ada tulisan "Intel inside, sih!" 

Back.jpg (8147 bytes)


Si Pandur Subversif

Saat Hari Anak Nasional, Soeharto mengadakan dialog terbuka dengan anak-anak di Taman Mini. Suasana riang gembira karena Soeharto memang sedang bersuka-cita. Ia berupaya menunjukkan kedekatannya pada anak-anak. Berbagai hal didialogkan.

"Kamu pengin jadi apa?," tanya Soeharto pada Wiwik (9 tahun)

"Jadi juru rawat," jawab bocah itu.

"Bagus nduk. Itu berguna untuk pembangunan," jawab Soeharto dengan senyum, "Kamu mau jadi apa?"

"Saya ingin jadi presiden, Pak!," jawab Pandur (10 tahun).

"Oh, bagus itu," jawab Soeharto singkat dengan muka merah.

Usai acara, Soeharto langsung memanggil Pangab Faisal Tanjung.

"nJung, kesini kamu!"

"Siap, Pak!" jawab Faisal Tanjung dengan sikap sempurna.

"Begini," ujar Soeharto, "Segera tangkap orang tua si Pandur itu, karena mereka telah mengajarkan pada bocah itu hal-hal yang menjadi kewenangan daripada MPR." 

Back.jpg (8147 bytes)


Kiat Sukses Oom Liem

Banyak orang penasaran dan ingin tahu rahasia kesuksesan taipan Liem Soei Liong. Saat datang dan Fukkien, Oom Liem hanya membawa pakaian yang melekat saja. Tapi kini ia berhasil jadi konglomerat terkemuka di kawasan Asia. Selain itu, ia juga dikenal punya hubungan dekat dengan kekuasaan di Indonesia.

Pada sebuah kesempatan, seorang wartawan yang berhasil mendekati Oom Liem mengajukan pertanyaan menyangkut kiat sukses Oom Liem. "Oom, bisa cerita bagaimana Oom mengawali bisnis di Indonesia hingga sukses seperti sekarang?"

"Oh, dulu ketika saya datang belum punya apa-apa. Saya coba bekerja pada orang. Dari upah yang saya terima saya belikan 2 ekor bebek. Saya pelihara, lantas beranak-pinak. Sebagian telurnya saya jual, sebagian saya tetaskan jadi bebek. Bebek saya tambah banyak ... ," tutur Oom Liem.

"Lantas ...?"

"Merasa berhasil dengan bebek, saya coba memelihara babi. Uang hasil memelihara bebek saya belikan 2 pasang babi. Saya pelihara baik-baik dan saya kembang-biakkan hingga jadi banyak ...," ujar Oom Liem.

Begitu cerita Oom Liem. Rupanya dengan ketelatenen yang luar biasa Oom Liem terus beralih dari binatang yang satu ke binatang yang lain, yang nilai ekonomisnya kian tinggi. Namun, rupanya sang wartawan sudah tak sabar dengan cerita evolusi usaha Oom Liem.

"Lantas apa hal itu yang membuat Oom bisa jadi konglomerat? Lantas apa hubungannya dengan kedekatan Oom dengan presiden?" sergah si wartawan.

"Oh, itu. Itu yang mau saya ceritakan. Setelah sukses memelihara bebek, babi, kambing, sapi .... akhirnya saya memutuskan untuk memelihara ‘Babe’ sampai sekarang."

Back.jpg (8147 bytes)


Feisal dan Kekacauan

Feisal diundang nmenghadiri sebuah jamuan makan bersama para tokoh profesional terkemuka di Jakarta. Feisal dianggap mewakili kalangan profesional ABRI.

Saat seremonial usai, acara dilanjutkan dengan pesta kebun. Sambil menyantap makanan Feisal mendekati seorang dokter dan insinyur yang tampaknya sedang mengunggulkan profesinya masing-masing.

"Bagaimana pun, profesi dokter adalah profesi tertua di dunia," ujar sang dokter. "Seorang dokter itu bisa dikatakan mempunyai keahlian seperti Tuhan saat menciptakan Adam. Ia melakukannya lewat sebuah operasi. Ia mengambil sebuah tulang rusuk Adam dan kemudian menciptakan Hawa. Pembedahan adalah pekerjaan yang paling tua di dunia ini," lanjut si dokter.

"Tunggu sebentar," tangkis si insinyur, "Sebelum Tuhan menciptakan Adam dan Hawa, ia terlebih dulu harus mengatasi kekacauan dan kebingungan yang ada dan baru melakukan proses penciptaan selama 6 hari. Apa yang dilakukan insinyur pada dasarnya lebih awal ketimbang pembedahan yang dilakukan seorang dokter."

Feisal rupanya habis kesabarannya. "Kamu berdua salah besar. Memangnya menurut kalian siapa yang mampu merekayasa kekacauan dan kebingungan. Kan hanya ABRI?!"

Back.jpg (8147 bytes)


Antrean di Pengadilan Terakhir

Pada akhir jaman, arwah mantan Presiden AS Harry Truman naik ke atas. Ia melihat antrean para arwah di pintu pengadilan terakhir. Karena ia mantan preslden, ia ingin cepat-cepat masuk menerobos antrean panjang itu. Namun salah satu penjaga mengingatkan, "Maaf, presiden yang ikut antri di sini bukan hanya Anda. Di depan juga ada presiden," kata sang penjaga.

Karena masih merasa jadi seorang presiden dari negara terkuat, Truman tetap menerobos ke depan. Namun sesampai di bagian depan ia kaget. Ternyata betul, di depannya De Gaulle, Churchill, Brezhnev malahan orang macam Napoleon dan Julius Caesar masih berdiri ikut antre. Truman merasa malu untuk kembali antre di belakang. Tiba-tiba sebuah arwah maju terus tanpa menghiraukan antrean panjang itu. Ia langsung ke depan dan langsung nyelonong masuk gerbang pengadilan terakhir. Sebagian besar arwah protes, termasuk Truman. Ia bertanya kepada penjaga, "Hei.... kenapa orang itu nyelonong masuk tanpa antre?" Si penjaga menjawab, "Oh, itu Soeharto dari Indonesia!"

Back.jpg (8147 bytes)


Terima Kasih atas Kirimannya

Saat menjabat sebagai Menteri Negara Urusan Khusus (Menrakus), Harmoko dapat tugas dari Pak Soeharto untuk melawat ke sejumlah negara di benua Afrika. Perjalanan tersebut untuk menemukan pola demokrasi ala Afrika.

Malang tak dapat ditolak, saat berkunjung ke sebuah daerah suku terasing Afrika rupanya Harmoko terpisah dari rombongan dan stafnya. Ia ditangkap oleh sebuah kelompok suku yang masih kanibal.

Di Jakarta, rupanya Soeharto sudah lama menanti kabar dan laporan Menrakus yang biasanya selalu meminta petunjuk darinya itu. Tunggu punya tunggu, datanglah sepucuk surat dari ketua suku kanibal.

Isi suratnya: Dengan hormat. Terima kasih banyak atas kebaikan Anda mengutus seorang menteri kepada kami. Menteri Anda itu sungguh baik, penurut, sabar dan juga lezat. Sayang bagian otak yang selalu jadi kesukaan saya rupanya tidak ada.

Back.jpg (8147 bytes)


Dia adalah Tuhan

Untuk melepas kepenatan dan bisa menenangkan pikiran dari gejolak moneter dan bencana yang sedang melanda negerinya, Soeharto minta pada staf Bina Graha agar memasang aquarium besar di rumahnya dan mengisinya dengan berbagai jenis ikan. Soeharto senang dengan mainan barunya itu. Ia kerap membersihkan dan menganti air aquarium sendiri.

Rupanya di aquarium Soeharto ada seekor ikan mas yang suka berfilsasat. Tiba-tiba ia mendekati seekor temannya dan bertanya, "Kau percaya adanya Tuhan?"

"Tentu saja," jawab sang teman, "Kalau bukan Dia, siapa lagi sih yang mengganti air dalam aquarium ini?" 

Back.jpg (8147 bytes)


Sopir Saya Bisa

Abdul Latief ke mana-mana selalu membawa sopir pribadinya, termasuk setiap kali memberikan ceramah tentang perlunya memunculkan peran serta buruh dalam Abad Globalisasi. Setiap kali Latief berceramah, sang sopir biasanya juga ikut duduk di ruangan ceramah menunggu Latief mengajaknya pulang.

Akibat sering mendengar ceramah Latief yang itu-itu juga, suatu saat sang sopir memberanikan diri untuk menggantikan Latief. "Tuan Latief, kali ini biarlah saya yang berceramah dan Anda pura-pura jadi sopir saya," usul sang sopir.

Latief tertarik. Dalam sebuah ceramah di lingkungan pengusaha, Latief menyamar jadi sopir.

Dalam waktu tiga per empat jam sopir Latief dengan lancar menyelesaikan uraiannya tentang perburuhan dan tenaga kerja di Indonesia. Namun dalam acara tanya-jawab, seorang penguasaha bertanya tentang suatu hal yang tak pernah diuraikan Latief. Untung sang sopir dapat segera menguasai dirinya. Dengan tenang ia menjawab, "Oh, itu soal yang gampang saudara-saudara. Lihatlah, sopir saya saja pasti bisa menguraikan jawabannya."

Back.jpg (8147 bytes)


Kabar Buat Bung Gafur

Setiap kali menjelang Pemilu Abdul Gafur selalu menulis buku, kalau tidak menyangkut Soeharto ya Bu Tien. Sebetulnya bukunya biasa-biasa saja, atau malah bisa dikatakan tidak menarik. Gafur memang tak bermaksud menyusun buku, tapi sekadar bisa mengambil hati Pak Harto. Itu sebabnya, Gafur sangat gembira ketika suatu hari ia didatangi seorang editor dari sebuah penerbitan Amerika ternama.

Sang editor berkata pada Gair, "Ada kabar baik dan kabar buruk buat Anda."

"Oh ya, ini pasti menyangkut minat Anda untuk menerbitkan karya saya dalam edisi Inggris. Coba katakan kabar baik itu," ujar Gafur.

"Paramount menyukai karangan Anda. Karangan Anda dilahap habis."

"Hcbat betul! Terima kasih atas pujian Anda yang berlebihan. Lantas apa yang jadi kabar buruk buat saya?"

"Paramount itu anjing saya." 

Back.jpg (8147 bytes)


Dilarang Bicara

Untuk mensukseskan program "ABRI Masuk Desa" sejumlah pasukan di sebuah desa terpencil di pinggiran Ainaro, Timtim, dikerahkan untuk mendirikan gedung sekolah. Setelah itu mereka diinstruksikan agar mengajak anak anak agar mau pergi bersekolah.

Rupanya Soares, 10, adalah salah satu anak yang dipaksa tentara bersekolah. Di sekolah ia diajari oleh guru tentara tentang sejarah Proklamasi RI, perjuangan kemerdekaan, pahlawan Cut Nyak Dien dan Teuku Umar, era kejayaan Majapahit dan Pemberontakan Komunis pada September 1965.

Setelah 1 minggu ikut pelajaran sekolah tentara, Soares ditanya ibunya. "Nak, apa pengalamanmu selama seminggu di bangku sekolah," tanya ibunya.

"Saya hanya buang-buang waktu saja. Saya tidak bisa membaca, saya tidak bisa menulis, dan saya tidak diperbolehkan bicara ..." 

Back.jpg (8147 bytes)


Slogan ABRI

Di sebuah ruangan kelas di pinggiran Desa Qom, kawasan ujung timur Timtim, tentara diberi kesempatan mengajar pelajaran bahasa di sebuah sekolah menengah. Seorang perwira muda ABRI menerangkan bahwa pemerintah Indonesia sekarang ini tengah menggiatkan sejumlah program demi kesejahteraan masyarakat Timor Timur .

"Ada ABRI masuk desa, kain masuk desa, koran masuk desa, listrik masuk desa. Coba silogisme apa yang bisa dibuat? ,

Seorang pelajar, Manuel, yang tampaknya kesal dengan pelajaran tersebut mengacungkan jari, "ABRI ke desa, pakai sarung, baca koran, kesetrum." 

Back.jpg (8147 bytes)


Menghindari Ancaman ABRI

Dua orang lelaki di pinggiran Los Palos, Timtim, ditangkap ABRI dengan tuduhan terlibat kegiatan antiintegrasi. Mereka dibawa ke Markas SGI di Dili dan menjalani proses pemeriksaan. Meski disiksa, keduanya menolak memberikan keterangan.

"Di mana tempat tinggalmu?," tanya, interogrator.

"Saya tinggal di sembarang tempat," jawab yang satu. "Kadang di ladang, di gunung, di hutan, di pantai, di rumah penduduk ...yaa... dimana saja."

Merasa buntu menghadapi perlawanan ala Timtim, sang interogrator beralih kepada lelaki satunya. "Kalau kau, tinggal dimana?"

"Ah, saya bertetangga dengan dia."

Back.jpg (8147 bytes)


Merasa Aman

Mbak Tutut disertai sejumlah pengawalnya tengah berlibur di sebuah hotel mewah di Amerika. Tampaknya ia ingin menikmati sinar matahari Amerika. Ia berbaring telanjang di atap sebuah hotel mewah dengan penjagaan ekstra ketat.

Tiba-tiba manajer hotel mendatanginya. Sang manajer berdehem dan menyatakan, "Maaf madame, tempat ini bukan untuk bertelanjang bulat."

MIbak Tutut menjawab dengan ketus, "Kenapa tidak? Kan tak seorang pun yang melihat saya."

"Madame, memang tak melihat seseorang," ujar sang manajer. "Namun madame, ini adalah tempat terhormat. Sadarkah Madame bahwa Madame kini tengah berbaring di atap tembus pandang dari, ruang makan dan sekarang sedang waktu makan siang."

Back.jpg (8147 bytes)


Bukan Saya

Di sebuah sekolah dasar di Los Palos, Timtim, seorang sersan kepala yang galak jadi guru pengganti. Kali ini ia mengajarkan sejarah kemerdekaan RI untuk anak-anak kelas III. Untuk menguji daya tangkap para muridnya, ia bertanya dengan suara keras, "Coba, siapa yang menurunkan bendera merah, putih biru di Hotel Oranye di Surabaya?"

Murid-murid yang terlanjur dicekam rasa ketakutan serentak menjawab, "Bukan saya, Pak. Jangan tangkap saya! "

Back.jpg (8147 bytes)


Pemerintah dan Bikini

Seorang wartawan Amerika yang tengah berjalan-jalan di pinggir pantai Kuta di Bali bertemu dengan seorang intelektual muda yang tampaknya tengal menyaksikan kaum nudis.

Wartawan Amerika segera mendekati sang intelektual muda dan bertanya, "Menurut Anda, apa perbedaan antara bikini dan pemerintah."

"Tak ada perbedaannya, yang ada justru persamaanya", jawah sang intelektual muda, "Banyak orang justru merasa heran dengan apa yang menyebabkan mereka tetap menyantol di tempatnya. Dan semua orang sekaligus juga selalu berharap mudah-mudahan mereka segera melorot."

Back.jpg (8147 bytes)


Ralat Bohong

Sebuah surat kabar terkemuda terbitan Jakarta menurunkan headline dengan judul besar di halaman depan, ‘50% PEJABAT TINGGI KITA KORUPTOR DAN PENJAHAT’.

Tentu saja keesokan harinya sang pemimpin redaksi dipanggil menghadap ke Departemen Penerangan dan ke Mabes ABRI di Cilangkap. Si pemimpin redaksi dimaki-maki dan diminta segera meralat beritanya. Bila tidak SIUPP-nya bakal dicabut.

Maka keesokan harinya dimuatlah ralat berita sehari sebelumnya. Berikut ralatnya secara lengkap:

"Dengan ini kami meralat headline kemarin yang berjudul ‘50% PEJABAT TINGGI KITA KORUPTOR DAN PENJAHAT’ yang ternyata sama sekali tidak benar. Yang benar adalah ‘50% PEJABAT TINGGI KITA BUKAN KORUPTOR DAN BUKAN PENJAHAT’. Dengan demikian headline yang kami turunkan dianggap tidak pernah ada."

Back.jpg (8147 bytes)


Watak Setengah ABRI

Seorang perempuan di pinggiran Dili, Timtim, Marietta kawin dengan anggota ABRI asal Jawa.

Suatu hari putera mereka kembali dari sekolah dengan wajah murung dan langkah gontai.

"Ada apa sayang?" tanya Marietta.

"Saya ini orang Timtim atau Jawa, sih?"

"Lho, kenapa kamu bertanya begitu? Memang ayahmu ABRI Jawa dan ibumu Timtim. Tapi bukankah kau bisa menjadi kedua-duanya?"

"Saya bingung!" sahut anaknya, "Tadi di sekolah ada teman sekelas bawa sebuah radio kecil dan hendak menjualnya Rp 20 ribu pada saya. Dan saya tak tahu, apakah saya harus menawar atau mengambil saja radio itu."

Back.jpg (8147 bytes)


Identitas ABRI

Di sebuah salon tradisional di Dili, seorang tukang potong rambut sedang menggunting seorang pemuda berbadan tegap dengan rambut terburai hingga pundak.

"Apakah Bapak berdinas di ketentaraan?" tanya sang tukang cukur.

"Ya," sahut sang pemuda, "Darimana anda tahu?"

"Hmm," ujar sang tukang cukur, "Saya menemukan baret dibalik rambut Bapak."

Back.jpg (8147 bytes)


Neraka Ganjarannya

Empat puluh ibu-ibu Dharma Wanita yang pernah memborong belanjaan di Bangkok dipimpin istri Meneer Van Dhanu tiba di ruang seleksi. Malaikat yang bertugas segera menerima mereka.

"Ibu-ibu, siapa di antara kalian yang waktu di dunia suka berbelanja hingga berkoli-koli," tanya malaikat.

Kecuali seorang, semuanya mengacung sambil menekuk muka malu-malu. :

"OK, saya cuma mau tanya. Sekarang siapa di antara kalian yang tak pernah mempercayai suaminya?" lanjut malaikat.

Tiga puluh sembilan di antara wanita itu mengacungkan jarinya. Cuma Nyonya Van Dhanu yang tidak. Melihat hal itu, malaikat cuma bisa menggelenggelengkan kepalanya kemudian mengangkat telepon.

"Hallo neraka?!... Apakah masih ada kamar untuk tiga puluh sembilan wanita yang tak pernah mempercayai suaminya dan satu untuk seorang wanita yang tuli?!"

Back.jpg (8147 bytes)


Ke Luar Negeri Saja Terus

Akibat serial kunjungan keluar negeri Soeharto jatuh sakit dan harus beristirahat selama 10 hari.

Menteri sekretaris negara mengeluarkan pengumuman resmi, "Akibat kunjungan ke luar negeri, Soeharto perlu beristirahat."

Akibat pernyataan ini nilai rupiah anjlok. Menteri sekretaris negarapun menyatakan, "Soeharto tidak sakit, hanya perlu beristirahat."

Kali ini giliran bursa saham anjlok. Seorang pengamat ekonomi dengan nada jengkel berkata, "Agar tak kelelahan, tak sakit dan tak perlu beristirahat, kenapa Soeharto tak keluar negeri seterusnya saja?"

Back.jpg (8147 bytes)


Kebebasan Setelah Berbicara

Menlu Ali Alatas di Jakarta dalam sebuah wawancara dengan wartawan asal Portugal menegaskan, "Di sini Anda bisa menemukan kebebasan untuk berbicara seperti yang biasa Anda temukan di negeri Anda. Anda bebas untuk berbicara apa saja!"

Wartawan Portugal lantas bertanya, "Tapi apakah saya bisa menemukan kebebasan setelah berbicara!"

Back.jpg (8147 bytes)


Politisi Tanpa Ambisi

Dalam pertemuan anggota parlemen ASEAN, seorang anggota MPR Indonesia dari Fraksi ABRI memperkenalkan diri pada peserta pertemuan, "Saya terlahir sebagai anggota ABRI. Saya telah menjalani hidup saya selama ini sebagai anggota ABRI. Dan saya berharap kelak saya mati juga sebagai anggota ABRI."

Dari deretan anggota parlemen Singapura terdengar sebuah pertanyaan dengan nada keheranan, "Bagaimana mungkin ada politisi tidak punya ambisi apa-apa."

Back.jpg (8147 bytes)


ABRI dan Metromini

Dalam kursus Lemhamnas, Feisal menjelaskan tentang perlunya konsep Dwifungsi ABRI dipertahankan dalam praktek kehidupan di Indonesia di segala bidang.

"Nah, sekarang saya ingin bertanya. Siapa di antara Saudara yang bisa menjelaskan bagaimana rasanya hidup Saudara bila ABRI yang memimpin"’ tanya Feisal.

Seorang peserta kursus yang anggota kebetulan anggota PPP-nyeletuk, "Yah, persis seperti naik Metromini. Seorang menyetir dan lainnya terguncang-guncang."

Back.jpg (8147 bytes)


Ilmu Capek

Pada musim kampanye Pemilu 97, Harmoko yang baru saja kampanye keliling pulang ke rumah setelah larut malam. Sambil melepas sepatu dan merebahkan diri ke ranjang, Harmoko berkata, "Wah, capeknya. Hari ini benar-benar mengerikan."

"Saya pun merasa begitu," ujar istri Harmoko, "Seingat saya, saya belum pernah merasa secapek ini."

"Kau capek?" tanya Harmoko, "Kan saya yang berpidato terus-terusan? Mengapa kamu juga ikut capek?"

"Sebab," ujar istrinya, "Saya terpaksa harus mendengarkan semua pidatomu itu."

Back.jpg (8147 bytes)


Itu Tadi Ransel

Dalam pesawat terbang dari Dili menuju Denpasar terdapat tiga penumpang. Yang seorang adalah anggota pramuka dan pastor asal Timor Timur dan Harmoko. Tiba-tiba terdengar suara pilot lewat pengeras suara.

"Dalam beberapa detik pesawat kita akan jatuh. Sayang kita hanya punya tiga parasut. Saya akan mengambil satu, karena saya harus melaporkan kecelakaan yang melipatkan tokoh penting ini." Sang pilot pun langsung loncat.

Melihat pilot dengan gesit meloncat, Harmoko buru-buru mengambi1 sebuah parasut yang ada di dekatnya. "Saya perlu menyelamatkan diri," ujar Harmoko, "Sebab saya bertugas memimpin Sidang Umum MPR untuk menggolkan Soeharto sebagai Presiden RI." Harmoko pun langsung terjun nenyusul sang pilot.

Pastor pun menatap si pramuka kecil. "Nak," ujar sang pastor, "Saya sudah puas menjalani kehidupan ini. Sedang kamu masih harus menjalaninya. Gunakanlah parasut ini. Semoga Tuhan menyertaimu, Nak."

"Jangan bersedih, Pastor"’ ujar si pramuka. "Kita masih punya dua parasut. Yang diambil Pak Harmoko tadi adalah ransel saya."

Back.jpg (8147 bytes)


Syukurlah

Seorang tua penduduk di pinggiran Los Palos, Timor Timur, bernama Manuel sedang sakit berat. Ia tengah berbaring di ranjang kayunya. Tiba-tiba terdengar ketukan keras pada pintu luar.

"Siapa itu yang di luar?," teriak Manuel dengan ketakutan.

"Saya Malaikat Maut!"

"Oh, syukurlah. Saya kira yang datang anggota ABRI."

Back.jpg (8147 bytes)


SDM yang Paling Berharga

Seorang ahli perbankan utusan IMF warga Amerika datang berkunjung ke Jakarta. Habibie yang menerimanya mengajak berkunjung ke sebuah bank milik pemerintah. Dengan bangga Habibie mengajak tamunya berkeliling meninjau keadaan kantor. Utusan IMF itu lantas tercengang-cengang melihat di sejumlah ruangan balok-balok emas bergeletakan begitu saja, tanpa penjagaan.

"Hal seperti ini tak mungkin terjadi di Amerika. Pantas cadangan kekayaan negeri Anda tipis," kata tamu dari Amerika kepada Habibie. "Di Amerika, emas merupakan cadangan negara yang disimpan dan dijaga ketat."

"Ya, itulah bedanya. Sebab Amerika adalah negara kapitalis", sahut Habibie tak mau kalah. "Di negeri Pancasila seperti kami, kapital adalah sumberdaya manusia dan tenaga kerja. Jadi manusialah yang kami jaga ketat!"

Back.jpg (8147 bytes)


Alangkah Bedanya

Si Gendut yang suka mabok bergumam mengenai negerinya.

"Alangkah harmonisnya hubungan Clinton dengan rakyatnya. Baru saja ia mengatakan bahwa Amerika sedang berada dalam keadaan ekonomi yang buruk, rakyat Amerika segera saja percaya. Sedangkan di negeri saya, saat Soeharto mengatakan kepada rakyat bahwa Indonesia setelah krisis moneter ini akan segera mengalami kemajuan, tak seorang rakyat pun yang percaya."

Back.jpg (8147 bytes)


Salah Pilih

Bersama sejumlah perwira asal Indonesia Syarwan dapat kesempatan berkunjung ke Amsterdam. Ditemani seorang perwira Belanda, Syarwan mengunjungi kawasan lampu merah yang paling terkenal seantero dunia itu. Rupanya Syarwan tergiur melihat kemolekan tubuh perempuan bule yang disebut sebagai "kuda putih" yang mejeng di kawasan itu. "Yah, kapan aku bisa ....merasakan dekapan mereka," pikirnya.

Di pinggiran jalan, di antara tumpukan sampah tiba-tiba Syarwan melillat sebuah lentera tembaga. Dia merunduk dan memungutnya. Ternyata benda itu adalah sebuah lentera ajaib. Saat Syarwan menggosok keluarlah jin.

"Syarwan, kau boleh mengajukan dua permintaan. Aku janji akan mengabulkannya," ujar jin.

"Pertama," ucap Syarwan, "Aku ingin berkulit putih, bertubuh padat dan tak usah lagi jadi perhatian orang seperti di sini. Kedua, aku ingin selalu liidup dalam dekapan badan yang paling rahasia dari seorang perempuan, yang tentunya hangat dan nyaman."

Hanya dalam sekejap, Syarwan pun berubah menjadi sebuah tampon.

Back.jpg (8147 bytes)


Menyerah

Di Indonesia semua gerakan yang berbau melawan pemerintah pasti dituduh sebagai subversif. Suatu ketika, seorang pria setengah baya mendatangi kantor dinas sosial.

"Apa kah di sini markas besar dari gerakan melawan kemiskinan?" tanyanya.

"Ya," sahut petugas jaga.

"Saya datang untuk menyerah ..."

Back.jpg (8147 bytes)


Uang Lebih Penting

Seorang anggota ABRI berpangkat kopral berpakaian preman tengah berjalan sendirian di jalan yang gelap dan sepi oleh dua pria berpistol.

"Saya tidak main-main," kata salah satu pria sambil mengancam.

"Serahkan uangmu, atau otakmu kubuat berhamburan."

"Silakan tembak dan buat otak saya berhamburan," sambut si kopral. "Sebagai anggota ABRI saya tak memerlukan otak; saya lebih butuh uang untuk hidup."

Back.jpg (8147 bytes)